Habib Syech, Syiarkan Islam Lewat Syair

gomuslim.co.id - Nama Habib Syech Bin Abdul Qadir Assegaf sering kali terdengar di telinga melalui acara shalawatan akbar yang diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia. Setiap kali terdengar diadakannya acara shalawatan yang dihadiri oleh Habib Syech, maka para Syechermania berbondong-bondong dengan penuh antusias mendatangi tempat dimana akan diadakannya acara shalawat bersama tersebut.

Bagi para penggemar musik-musik dakwah Islam di Indonesia, mungkin mereka sudah mengenal salah satu tokoh spiritual pendakwah Islam, yaitu Habib Syech Bin Abdul Qadir Assegaf. Di tengah riuh ramainya bumi Indonesia dengan berbagai persoalan yang bermacam-macam di segala lini kehidupan, muncullah sosok Habib Syech yang dating dengan gerakan shalawatnya yang akan membuat sejuk kalbu.

Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf, Habib Syech dilahirkan di kota Solo, Jawa Tengah pada tanggal 20 September 1961 M. dia adalah anak dari 16 bersaudara, ayahnya bernama Abdul Qadir Assegaf dan ayah memberi nama kepadanya “Syech”.

“Sebetulnya nama saya, jadi Syech yang ada dalam nama saya itu bukan gelar seorang guru, karna saya juga bukan guru, waktu itu ayah memberi nama pada saya Syech dan orang memanggil saya Syech bin Abdul Qadir Assegaf, bahkan kadang orang memanggil saya Syech Abdul Qadir Assegaf, dikira saya ini guru, bukan, nama saya “Syech”,  ungkapnya

Semasa hidup ayahnya selalu mengedepankan Rumah Allah yakni masjid, bahkan tercatat ia lebih sering di dalam masjid ketimbang di dalam rumahnya sendiri. Hal ini menandakan bahwa ayah Habib Syech dekat dengan Allah

Riwayat Pendidikan Habib Syech

Sebagai putra dari seorang Al Habib Abdulqadir bin Abdurrahman Assegaf yang mengemban amanah sebagai Imam Masjid Jami’, pendidikan Habib Syechpun tidak terlepas dari kebiasaan sang ayah.

Semasa kecil. Habib Syech tidak pernah tinggal di sebuah pondok pesantren. Pendidikan Habib Syech lebih terjun ke masyarakat langsung melalui majelis taklim di masjid-masjid terutama Masjid Assegaf, Wiropaten, Pasar Kliwon, Solo.

Disitulah Habib kecil seusai Magrib menjelang Isya senantiasa istiqomah mengikuti halaqah keilmuan, belajar al Quran, membaca wirid-wirid bersama ayahanda tercinta. Di masjid Assegaf itu pulalag habib kecil dengan segala pengabdiannya menggunakan usia SD- nya untuk berkhidmat membersihkan masjid, menyapu dan mengepel lantai masjid.

 

Baca juga:

Habib Munzir Al-Musawa, Sang Pendiri Majelis Rasulullah

 

Beliau pernah menjelaskan bahwa orang yang paling menginspirasi dalam hidupnya adalah ayah dan ibunya sendiri. Ayahnya bukanlah orang yang masyhur, namun ayahnya adalah seseorang yang sangat mencintai masjid. Bagaimanapun keadaannya, baik sehat maupun dalam kondisi sakit beliau tetap mengimami. “Masjid adalah ‘istriku’ yang pertama,” itulah yang diucapkan dari seorang ayah yang kini putranya menjadi pengemban dakwah akhlak Rosulullah Saw.

Kata-kata itulah yang muncul tulus dari seorang yang sangat mencintai masjid, rumah Allah yang senantiasa digunakan sholat lima waktu. Hingga akhirnya, saat ayahanda Habib Syech menjadi imam, Allah memberikan kasih sayang dengan mengambil sang ayahanda saat sujud dalam salat Jumat terakhir. Subhanallah, sebuah akhir hidup yang mengharukan.

Selain dari ayahnya yang tercinta, Habib Syech juga mendapat lanjutan pendidikan dari paman beliau Alm. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf. Habib Ahmad adalah sosok yang berjasa dalam membangun mental Habib kecil. Pendidikan yang diberikan paman dari Hadramaut tersebut sangat berkesan bagi Habib Syech.

Pasalnya, sewaktu Habib Syech dibimbing Habib Ahmad, Habib Syech selalu dicaci, disalahkan meskipun Habib kecil waktu itu tidak melakukan kesalahan. Dalam pemaparannya, Habib kecil tidak tahu menahu mengenai sikap dari Habib Ahmad dalam membimbingnya. Bahkan, Habib kecil waktu itu hampir tidak kuat.

Ketika Habib kecil menghubungi salah satu teman yang mendampingi kedatangan pamannya ke Indonesia, barulah Habib Kecil menyadari bahwa apa yang dilakukan pamannya Habib Ahmad bin Andurrahman semata-mata hanya sebagai pembelajaran agar kedepannya Habib kecil menjadi sosok yang kuat secara mentalnya, sabar dan teguh dalam pendirian.

Selain dari sang paman, pendidikan dan perhatian penuh juga diberikan kepada Habib Syech dari Alm. Al Imam, Al Arifbillah, Al-Habib Muhammad Anis bin Alwiy Al-Habsy, seorang Imam Masjid Riyadh dan pemegang maqom al Habsyi. Berkat ketulusan, kesabaran dan kebesaran guru-gurunya itulah hingga saat ini Habib Syech masih setia menjalani dakwah mahabbaturrosul.

Putra-putra Habib Syech

Keempat putra Habib Syech adalah Habib Muhammad Bagir bin Syech Assegaf, Habib Umar bin Syech Assegaf, Sayyid Abu Bakar bin Syech Assegaf, dan Sayyid Toha bin Syech Assegaf.

Metode Dakwah Habib Syech

Pada dasarnya setiap manusia memiliki tugas utuk berdakwah sesuai dengan kadar kemampuannya. Hal ini senada dengan sabda Nabi Muhammad Saw.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (Riwayat Muslim)

Dari hadist di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa berdakwah bisa dengan tiga metode itu, salah satunya berdakwah dengan lisan (mulut). Perlu digaris bawahi bahwa berdakwah dengan lisan/suara telah dilaksanak oleh beberapa orang. Ada yang denga ceramah dan adapula dengan lantunan Syair-syair Sholawat Nabi.

Terkait dengan Syair-syair Sholawat, kira kira Siapa yang tak kenal Habib Syech, seorang habib yang memiliki nama lengkap Habib Syech Abdul Qodir Assegaf ini mensyiarkan Islam dengan ciri khas lantunan shalawatnya. Setiap pengajian beliau, dakwahnya selalu diawali dengan gema shlawat dari Ahbabul Musthofa. Setelah itu, baru disusul dengan pengajian yang disampaikan langsung oleh Habib Syech Abdul Qodir Assegaf.

Berbekal suara merdu dan mahir berbahasa arab, serta penguasaannya terhadap syair- syair dalam kitab Simtuddurar, Burdah dan beberapa kitab shalawat lainnya, Habib Syech memperkenalkan sebuah seni musik spiritual yang disenangi oleh banyak orang. Melalui musik spiritual ini, Habib Syech mampu menyampaikan dakwah Islam kepada sebagian besar masyarakat yang menyenangi dunia musik.

Dakwah melalui shalawat yang dilakukan Habib Syech bisa dinikmati seluruh kalangan, mulai dari kecil, muda dan tua. Dalam setiap majelis Habib Syech selalu memberi wejangan kepada jama’ahnya agar mengedepankan akhlak.

“Kalau sedang shalawat, niatkan membuat gembira Nabi Muhammad SAW. Silahkan bergembira dengan cara bagaimanapun, namun jangan berlebihan”. Katanya

Sebagai pendakwah dengan lantunan shalawat, Habib Syech tentu sangat mahir dalam melantunkan qasidah-qasidah sholawat serta syair-syair karangan para ulama terdahulu seperti qasidah Burdah, qasidah Diba’i, serta qasidah dan syair lainnya.

Disamping Habib Syech sangat piawai dalam melantunkan qasidah dan syair, ia juga piawai dalam menciptakan syair seperti yang dilakukan oleh Walisongo terdahulu. Dia juga menciptakan syair-syair Jawa yang berisikan pengetahuan Islam juga tentang nasihat-nasihat bagi para jama’ah. Syair karangannya yang easy listening membuat dakwahnya banyak diterima dan diikuti oleh para jama’ah yang sebagian besar adalah pemuda dan pemudi.

Namun, Habib Syech tidak mau dikatakan sebagai pencipta, dia tetap rendah hati, dia lebih suka dikatakan penggubah, karena sebagian besar syair yang ia ciptakan tidak lepas dari syair ulama terdahulu. Misalnya syair Kebo Sapi, syair Repot, Syair NU, syair Bolo Roso dan lain sebagainya seperti yang dipaparkan Habib Syech dalam wawancara dengan TV9 Surabaya sebagai berikut :

“Sebenarnya kita ini tidak membuat syair, kita cuman mengikuti mereka, mengikuti apa yang mereka sampaikan, sebagai tanda kita juga ingin rindu Rasulullah sebagaimana mereka. Akhirnya syair- syair itu kita gubah.”

Metode dakwah yang dilakukan oleh Habib Syech merupakan metode yang paling tepat baginya. Dengannya, orang-orang banyak menyukai akan lantunan Sholawatnya. Hingga pada akhirnya sampai detik ini pun jadwal beliau untuk bersholawat ke berbagai penjuru sudah terjadwal dengan rapi. Selain bersholawat di kota-kota, beliau juga memilik sholawat rutinan.

Adapun sholawat rutinannya diselenggarakan di kediaman Habib Syeh setiap Rabu Malam dan Sabtu Malam ba’da Isya. Seiring waktu berjalan, berkat keistiqomahan serta penyampaian komunikasi dakwah yang sederhana dan mudah dipahami, hingga saat ini terdapat lebih dari ribuan jamaah yang tergabung dalam Majelis Ahbabul Musthofa.

Di majelis tersebut jamaah bersama-sama menyelami kisah-kisah rasul dan mengajarkan cinta kepada Allah lewat Rasulullah.

Majlis Ahbabul Musthofa

Ahbabul Mustofa merupakan suatu majlis taklim yang memiliki tujuan untuk mempermudah jamaahnya meneladani Rasulullah. Ahbabul Mustofa sendiri berdiri sejak tahun 1998, berawal dari majlis Rotibul Haddad, Burdah.

Majlis taklim ini mengajak seluruh jamaahnya untuk mengenal Rosulullah lebih dekat. Jadi tidak heran jika dalam kesehariannya Habib Syeh bersama jamaahnya sering memperkenalkan kisah-kisah tentang Nabi Muhammad.

Syechermania

Syechermania adalah suatu komunitas para Pecinta dan Pengamal Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW yang bersemangat penuh keikhlasan dalam bersholawat karena spirit dan dorongan dari sang motivator sholawat yaitu Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf selaku Pengasuh Majelis Ta'lim dan Sholawat "Ahbaabul Musthofa" dari Solo Jawa Tengah

Syechermania diambil dari sebuah nama Ulama kharismatik yang bernama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. Karena Habib Syech selalu menggembleng kepada jiwa muda yang terlena oleh gemerlapnya kehidupan dunia untuk ingat Sholawat atas Nabi Muhammad SAW dengan melalui metode dakwah sholawat ala Habib Syech juga atas dasar kebersamaan.

Syechermania sebagian besar adalah pemuda dan pemudi. Di usia yang remaja dan menjelang dewasa mereka ingin mencari jatidiri mereka dan mereka butuh  bimbingan. Habib Syech mampu menunjukkan dan mejadi motivator bagi para pemuda dan Habib Syech mencintai para pemuda sehingga para pemuda merasa nyaman ketika mengikutinya.

Tidak seperti kebanyakan komunitas pecinta musik di tanah air Indonesia, biasanya leader dari grup musik akan mendirikan komunitas bagi penikmat musiknya. Syechermania adalah komunitas yang terbentuk secara alami, artinya Syechermania tidak dibentuk oleh Habib Syech, ia tidak tahu menahu tentang berdirinya komunitas Syechermania ini. Seperti yang ia tuturkan saat wawancara dengan TV9 sebagai berikut:

“Setelah semua berkembang (dakwah Habib Syech) setelah berkembang begitu tau-tau timbul Syechermania, setelah ribuan orang yang hadir, tau-tau ada Syechermania, saya heran, ini siapa yang membuat?, saya juga tidak tau, ini tau-tau timbul sendiri itu, bukan atas inisiatif saya, itu timbul sendiri” ungkapnya

Syechermania adalah suatu komunitas para Pecinta dan Pengamal Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW yang bersemangat penuh keikhlasan dalam bersholawat karena spirit dan dorongan dari sang motivator sholawat yaitu Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf selaku Pengasuh Majelis Ta'lim dan Sholawat "Ahbaabul Musthofa" dari Solo Jawa Tengah

Syechermania diambil dari sebuah nama Ulama kharismatik yang bernama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. Karena Habib Syech selalu menggembleng kepada jiwa muda yang terlena oleh gemerlapnya kehidupan dunia untuk ingat Sholawat atas Nabi Muhammad SAW dengan melalui metode dakwah sholawat ala Habib Syech juga atas dasar kebersamaan.

Syechermania sebagian besar adalah pemuda dan pemudi. Di usia yang remaja dan menjelang dewasa mereka ingin mencari jatidiri mereka dan mereka butuh  bimbingan. Habib Syech mampu menunjukkan dan mejadi motivator bagi para pemuda dan Habib Syech mencintai para pemuda sehingga para pemuda merasa nyaman ketika mengikutinya.

 

Baca juga:

Guru Zuhdi, Ulama Kharismatik Masa Kini Asal Kalimantan Selatan

 

Tidak seperti kebanyakan komunitas pecinta musik di tanah air Indonesia, biasanya leader dari grup musik akan mendirikan komunitas bagi penikmat musiknya. Syechermania adalah komunitas yang terbentuk secara alami, artinya Syechermania tidak dibentuk oleh Habib Syech, ia tidak tahu menahu tentang berdirinya komunitas Syechermania ini. Seperti yang ia tuturkan saat wawancara dengan TV9 sebagai berikut:

“Setelah semua berkembang (dakwah Habib Syech) setelah berkembang begitu tau-tau timbul Syechermania, setelah ribuan orang yang hadir, tau-tau ada Syechermania, saya heran, ini siapa yang membuat?, saya juga tidak tau, ini tau-tau timbul sendiri itu, bukan atas inisiatif saya, itu timbul sendiri.” katanya

Habib Syech pernah mencoba mencegah kemunculan komunitas ini. Waktu itu, sekitar tahun 2008 dia bertanya kepada beberapa Syechermania dari berbagai daerah untuk mengetahui berapa kira-kira jumlah seluruhnya. Jumlah pada tahun 2008 sekitar 16.000 anak muda, kemudian Habib Syech berpesan agar memberhentikan komunitas ini. Karena dia tidak mau anak-anak muda shalawat ini disamakan dengan anak-anak muda yang bermaksiat, atau kumpulan-kumpulan yang tidak manfaat. 

Dia juga takut komunitas ini terjerumus kedalam lembah politik dan masalah-masalah yang tidak bermanfaat. Namun kumpulan tersebut tidak mau, alasannya karena komunitas tersebut adalah hal yang baik dan mereka menyanggupi untuk mengaturnya. Akhirnya Habib Syech menyetujui dengan beberapa persyaratan diantaranya adalah:

  • Syechermania tidak berpolitik.
  • Syechermania tidak hura-hura.
  • Syechermania bukan wadah senang yang lepas kontrol, tetapi wadah senang yang beradab.

Hingga saat ini, begitu banyak jumlah komunitas Syechermania ini sudah sangat banyak dan ada di berbagai daerah di Indonesia hingga negara tetangga dan tidak hanya kalangan anak muda, tetapi berbagai macam kalangan masyarakat pecinta shalawat.

Itulah kisah kehidupan dari Habib Syeh. beliau berdakwah dengan shalawat, mensyiarkan islam lewat syair. Semoga kita sama-sama mengambil pelajaran darinya dan semoga dengan mengenal sosok beliau merupakan bagian dari usaha kita untuk senang berkomunikasi dan dekat dengan orang-orang saleh terlebih para ulama. Amin.


Back to Top