Hukum Menunda Qadha Puasa Hingga Masuk Ramadan Lagi

gomuslim.co.id – Puasa Ramadan merupakan satu dari rukun Islam yang lima. Kewajiban puasa berlaku bagi setiap muslim yang sudah aqil baligh. Muslim wajib berpuasa selama sebulan penuh di bulan suci Ramadan.

Namun begitu, tidak semua muslim tidak dapat menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Beberapa di antara mereka karena sakit, sedang haid (bagi perempuan), atau pernah membatalkan puasa karena alasan tertentu.

Karena puasa sifatnya wajib, maka bagi muslim yang tidak menjalankan puasa Ramadan bisa menggantinya di lain hari. Istilah yang dikenal adalah dengan qadha puasa.

Apa itu qadha? Secara bahasa, kata al-qadha’ (القضاء ) dalam bahasa Arab punya banyak makna. Di antaranya bisa bermakna hukum (الحكم ), dan juga bisa bermakna penunaian (الأداء )

Sedangkan istilah qadha menurut para ulama, di antaranya Ibnu Abdin adalah ‘mengerjakan kewajiban setelah lewat waktunya’

Bila suatu ibadah dikerjakan pada waktu yang telah lewat, disebut dengan istilah qadha. Sedangkan bila dikerjakan pada waktunya, disebut adaa' (أداء ).

Sedangkan bila sebuah ibadah telah dikerjakan pada waktunya namun diulangi kembali, istilahnya adalah i'adah (إعادة ).

Qadha‘ puasa artinya berpuasa di hari lain di luar bulan Ramadan, sebagai pengganti dari hari-hari yang ia tidak berpuasa pada bulan itu.

Kewajiban Qadha

Seseorang yang tidak dapat melakukan puasa ketika Ramadan, maka ia diwajibkan mengqadha puasanya. Kewajiban puasa tidak hilang meskipun masa wajibnya (hari-hari pada bulan Ramadan) telah usai. Kewajiban qadha ini juga tertuang dalam firman Allah:

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, (kemudian tidak puasa), maka wajib menggantinya pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah : 184)

Perintah qadha puasa juga ada dalam hadits nabi:

Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata, "Dahulu di zaman Rasulullah SAW kami mendapat haidh. Maka kami diperintah untuk mengganti puasa”. (HR.Muslim)

Qadha puasa berlaku bagi siapa saja yang memiliki kewajiban puasa namun tidak melakukanya. Baik dikarenakan adanya udzur syar’i maupun sengaja dilakukan tanpa adanya udzur.

Jika seseorang melakukan hal yang membatalkan puasa karena lupa, maka ia tidak berdosa dan juga tidak batal puasanya. Misalnya seseorang yang lupa minum di siang hari bulan Ramadan sedangkan ia sedang berpuasa.

Jika seseorang tidak berpuasa karena ada udzur syar,i maka hal itu diperbolehkan. Namun tetap wajib menggantinya. Dengan kata lain tidak berdosa namun wajib mengganti.

Jika seseorang dengan sengaja membatalkan puasa, namun ia keliru menyangkanya sudah waktunya berbuka, maka ia tidak berdosa namun tetap wajib mengganti puasa yang telah ia rusak dengan sengaja tersebut.

Qadha puasa juga wajib bagi mereka yang membatalkan puasa dengan sengaja dan tanpa udzur syar’i yang membolehkan. Di sini maka selain ia wajib qadha puasanya, ia juga telah berdosa karena meninggalkan puasa dengan tanpa udzur. Bahkan sebagian ulama mewajibkan kaffarah selain harus qadha puasanya.

Sudah Masuk Ramadan Tapi Belum Qadha Puasa

Mungkin ada yang pernah mengalami, mempunyai utang puasa, namun belum menggantinya (qadha), sementara sudah masuk Ramadan berikutnya. Bagaimana hukumnya? sampai kapan batas waktu qadha tersebut? Apakah boleh ditunda sampai kapan pun? Ataukah ada batasnya?

Dalam masalah qadha puasa ulama telah berbeda pendapat mengenai batasan waktu qadha puasa. Ada yang mengatakan sampai kapan saja, ada pula yang membatasi tidak boleh lebih dari Ramadan berikutnya.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' menuliskan sebagai berikut :

Ketika seseorang menunda qadha sampai masuk Ramadan berikutnya maka tidak wajib fidyah baginya.

Ibnul Humam (w. 681 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Fathul Qadir menuliskan sebagai berikut :

Ketika menunda qadha puasa sampai masuk bulan Ramadha berikutnya maka berpuasa untuk Ramadan yang kedua. Karena memang itu waktu untuk puasa yang kedua. Dan mengqadha yang awal setelahnya. Karena waktu tersebut adalah waktu qadha. Dan tidak wajib qadha baginya. Karena kewajiban qadha itu tarakhi. Bahkan boleh baginya puasa sunnah terlebih dahulu.

Az-Zaila’i (w. 743 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq menuliskan sebagai berikut :

Jika seseorang memiliki tanggungan puasa yang belum diqadha sampai datang bulan Ramadan berikutnya, maka dia berpuasa untuk Ramadan kedua. Karena memang waktu tersebut waktu untuk puasa yang kedua. Dan tidak diterima puasa selainya (puasa kedua). Kemudian setelah itu baru mengqadha puasa Ramadan silam. Karena waktu tersebut adalah waktu qadha. Dan tidak wajib membayar fidyah.

2. Mazhab Al-Malikiyah

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan sebagai berikut :

Dan seseorang yang mempunyai kewajiban puasa Ramadan kemudian tidak puasa dan mengakhirkan qadha sampai masuk Ramadan berikutnya sedangkan ia mampu untuk menqadhanya (sebelum datang Ramadan kedua) maka jika dia tidak puasa pada Ramadan tersebut wajib baginya menqadha hari-hari yang ditinggalkanya dan memberi makan orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan satu mud dengan ukuran mud Nabi SAW.

3. Mazhab Asy-Syafi’i

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi'iyah di dalam kitabnya Raudhatu At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin - Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab menuliskan sebagai berikut :

Ketika seseorang menunda qadha sampai masuk Ramadan berikutnya tanpa udzur maka ia berdosa. Dan wajib baginya berpuasa untuk Ramadan yang kedua, dan setelah itu baru menqadha untuk Ramadan yang telah lalu. Dan juga wajib baginya membayar fidyah untuk setiap hari yang ia tinggalkan dengan hanya masuknya Ramadan kedua. Yaitu satu mud makanan beserta dengan qadha.

Dasar kewajiban fidyah ini adalah atsar sahabat, yang diriwayatkan darai shahabat Abu Hurairah. Sebagaimana disebutan oleh Imam an-Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab ia menyebutkan:

Dalilnya adalah riwayat dari Ibn Abbas, Ibn Umar dan Abu Hurairah bahwasanya mereka menghukumi orang yang memiliki hutang puasa kemudian tidak mengqadhanya sampai datang Ramadan berikutnya wajib memberi makan (fidyah) untuk puasa Ramadan yang pertama.

Adapun redaksi riwayat dari Abu Hurairah: barang siapa yang sakit, kemudian sembuh (memungkinkan untuk mengqadha puasanya) namun ia tidak segera membayar puasanya itu, sampai datang Ramadan berikutnya maka ia wajib berpuasa untuk Ramadan saat itu terlebih dahulu. Kemudian baru mengqadha puasa Ramadan yang telah lalu dan memberi makan setiap hari (jumlah puasa yang tertinggal) satu orang miskin.

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) yang juga ulama mazhab Asy-syafi'iyah di dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib menuliskan sebagai berikut.

Wajib membayar fidyah dengan mengakhirkan qadha. Ketika mengakhirkan qadha puasa Ramadan tanpa udzur dalam penundaanya sampai Ramadan berikutnya maka wajib qadha disertai membayar fidy ah satu mud untuk setiap hari.... Adapun ketika ia menunda qadha dkarena udzur, yaitu Karen dia terus-terusan menjadi musafir, sakit atau perempuan yang hamil dan menyusui sampai Ramadan berikutnya maka tidak mengapa. Karena mengakhirkan ada’ saja boleh keika ada udzur apalagi sekedar qadha.

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi'iyah di dalam kitab Al-Minhaj Al-Qawim menuliskan:

Barang siapa mengakhirkan qadha puasa Ramadan, padahal ia mampu(yaitu ia memiliki waktu yang cukup untuk mengqadha semua hutangnya, setelah hari Iedul Fitri dan selain hari qurban dan Tasyriq ,sedang ia tidak sakit atau bepergian di hari tersebut) sehingga datang Ramadhn berikutnya maka wajib baginya qadha dan membayar fidyah satu mud untuk setiap hari yang ia tinggalkan.

4. Mazhab Al-Hanabilah

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :

Fashl: Ketika seseorang mengakhirkan qadha, bukan karena udzur, sampai melewati dua Ramadan atau lebih, maka tidak wajib baginya kecuali qadha dan fidyah.

Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf menuliskan sebagai berikut :

Dan tidak diperbolehkan menunda qadha puasa Ramadan sampai Ramadan beikutnya. Dan ini yang di-nashkan. Dan tidak ada perbedaan disini. Dan ketika ia melakukanya maka wajib baginya qadha dan memberi makan orang miskin. Untuk setiap harinya satu mud. Dan ini adalah pendapat madzhab Hambali tanpa ada keraguan.

Demikian penjelasan qadha puasa menurut empat mazhab. Semoga dapat memberikan manfaat dan agar selalu hati-hati dalam menjalankan ibadah puasa. Wallahu’alam Bishawab

Sumber:

Muhammad Aqil Haidar, LC. 2019. Belum Qadha Puasa Sudah Masuk Ramadhan Berikutnya. Jakarta: Rumah Fiqih Publishing


Back to Top