Tiga Jalan Agar Kita Semakin Dekat dengan Allah

gomuslim.co.id – Jalan seorang sufi menurut Kiai Saleh dalam Syarah al-Hikam ada dua hal. Pertama jalan riyadhah yang kedua jalan wara’. Jadi kalau seseorang sudah punya niatan ingin lebih dekat kepada Allah SWT, maka tempuhlah kedua jalan ini.

1. Riyadhah

Riyadhah sendiri ada empat. Pertama, tahan melek atau menyedikitkan tidur. Ketika seorang hamba tidurnya lebih sedikit, maka akan lebih banyak waktu terjaga. Sehingga dia menggunakan waktunya untuk zikir, munajat kepada Allah. Waktu terjaga dan tidak tidur menjadi anugerah untuk mendekatkan manusia kepada Khaliq-nya.

Di antara jalan Riyadhah adalah sedikit tidur. Kalau terlalu banyak tidur, porsi untuk asik berdua dengan Allah jadinya juga berkurang. Karena waktu manusia juga terpotong banyak untuk makan, bekerja dan macam-macam. Kalau tidurnya terlalu banyak, otomatis waktunya juga terpotong banyak.

Kedua, tahan lapar atau menyedikitkan makan. Tahan lapar membuat orang dapat mudah menyerap ilmu-ilmu maupun cahaya kebijaksanaan Tuhan.

Salah satu caranya adalah dengan lebih banyak berpuasa. Manfaat puasa adalah menguatnya daya tahan spiritual. Karena puasa itu melatih menahan diri. Maka dari itu, orang yang puasa secara rutin akan mudah menahan nafsunya sekaligus memudahkan jalan menuju riyadhah.

Ketiga, tahan bicara atau mengurangi pembicaraan. Zaman sekarang mungkin ditambah mengurangi ngobrol lewat WA, Facebook atau media sosial lainnya. Jadi menghindari pembicaraan yang tidak perlu/tidak penting yang akan membuat orang tergelincir pada kesalahan dan pertengkaran.  

Semakin banyak orang bicara, potensi salahnya pun semakin banyak. Demikian pula, terlalu banyak memposting, pada saatnya ada satu dua yang keliru. Terkadang saking semangatnya menulis, ada saja tulisan yang typo, salah ruang dan lainnya.

Keempat, tahan berpisah dengan manusia manusia (khalwat). Maksudnya memperbanyak kebersamaan dengan Allah atau lebih khusyuk ibadah kepada Allah. Ini dalam rangka menyegarkan jiwa, mengheningkan batin. 

Jika kita terus-terusan terjun ke tengah keramaian, biasanya sulit untuk menemukan keheningan. Maka carilah waktu untuk berdua dengan Allah saja. Bisa lewat ibadah, doa, munajat, zikir, tafakkur dan lainnya. Tidak harus malam hari, setiap orang bisa mengambil strategi masing-masing tentang bagaimana agar lebih banyak khalwat tapi bersama Allah.

2. Wara'

Selanjutnya adalah jalan Wara’. Jika riyadhah adalah unsur aktifnya, maka wara’ ini adalah unsur pasifnya.

Menurut Kiai Soleh, jalan wara’ itu ada empat. Pertama wara’ adl. Yaitu orang yang menjaga kesucian dirinya dari keharaman sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh syariat.

Kalau memang haram, kita menjaga diri tidak sampai menabrak keharaman itu seraya terus berusaha menjalankan syariat.

Level selanjutnya dari wara’ adalah wara’ salihin (orang-orang saleh). Pada level kedua ini, orang salihin bukan hanya menjaga diri dari yang haram, tapi juga menjaga kesucian diri dari segala yang menjurus ke arah haram.

Misalnya, daripada berkumpul dengan orang-orang yang biasa membicarakan orang lain, mengghibah, memfitnah, maka lebih baik tidak ikut berkumpul. Jadi semua bentu yang menuju ke arah haram, dia tinggalkan.

Kemudian pada level tiga ada wara’ muttaqin. Yaitu prang yang menjaga kesucian diri dari segala yang belum diputus tegas halal/haramnya, karena takut nantinya terjatuh ke dalam keharaman.   

Meninggalkan sesuatu yang masih syubhat (belum jelas), khawatir sesuatu itu haram. Khawatir Allah tidak suka. Mirip dengan yang solihin tadi namun muttaqin ini lebih tinggi lagi.

Dan pada level empat, wara’ shiddiqin. Yaitu orang yang menjaga kesucian diri dari segala yang sebenarnya halal, namun dapat menggelincirkan diri ke dalam kemaksiatan atau keharaman. Halal, namun ada potensi bercampur dengan yang haram.

Misalnya minum air yang disedekahkan orang yang tempat kerjanya penuh kecurangan, atau banyak korupsinya. Kalau orang Shiddiqin itu hati-hati.

Contoh lain seorang pejabat atau pegawai dapat mobil dinas untuk kepentingan dinas/kantor. Kalau orang Shiddiqin, dia lebih baik menaruh mobilnya di kantor saja. Jadi hanya dipakai kalau waktu kerja di kantor. Karena kalau di rumah, khawatir tercampur dengan kepentingan-kepentingan rumah.

Orang yang sudah mencapai tingkat wara’ shiddiqin contohnya adalah khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Suatu ketika, Khalifah Umar sedang bekerja di kantor hingga malam hari. Dan lampu kantor masih menyala. Tiba-tiba istrinya datang ke kantor Khalifah. Langung Khalifah Umar mematikan lampunya karena khawatir istrinya datang untuk kepentingan keluarga atau pribadi. Sementara lampu kantor dibayar pajaknya Negara dan digunakan hanya untuk kepentingan Negara.

3. Ikhlas

Satu hal lain yang juga penting ditambahkan ke dalam jalan sufi kita, yaitu aspek ikhlas. Menurut Kiai Soleh, ikhlas ini ada tiga jenis.

Pertama ikhlasnya abidin. Yaitu orang yang ahli ibadah hendaknya menjaga amalnya dari Riya Khafi dan Riya Jali, menjaganya dari sifat ujub. Yakni beramal hanya karena Allah, seraya mengharap pahala surga dan merasa takut akan siksa neraka.

Level kedua adalah ikhlasnya muhibbin. Ini naik satu level dari ikhlas abidin. Kalau orang Muhibbin ini sudah tidak berpikir lagi pahala syurga atau siksa neraka.

Muhibbin ini orang-orang yang sudah jatuh cinta sama Allah, beramal hanya untuk tujuan memuliakan Allah. Orang yang jatuh cinta, biasanya kalau beramal itu tanpa pamrih. Amalnya hanya untuk yang dia cintai.

Kalau kita beribadah kepada Allah karena kita cinta kepada Allah, tidak menunggu pahala, tidak sekadar berlindung dari siksa neraka, kita sudah ikhlas di level dua, yakni Muhibbin.   

Selanjutnya, ikhlasnya arifin. Yaitu orang yang mengenal Tuhannya, bahwa Allah lah yang menggerakkan dan mendiamkan dirinya. Sedangkan dia sendiri tidak mempunyai daya upaya dan kehendak.

Ikhlasnya orang-orang arifin ini ikhlas level tertinggi. Orang yang punya kesadaran bahkan aku bisa beramal baik bukan karena jasaku, semuanya yang menggerakan yang membukakan hati, yang memungkinkan aku beramal baik hanya Allah.

Kalau ikhlas muhibbin masih ada rasa aku mempersembahkan semuanya untuk Allah, masih ada aku nya yang berusaha. Tapi level ikhlas arifin, bahkan yang aku lakukan ini hakikatnya pemberian Allah juga. Jadi aku tidak punya jasa sama sekali. Yang membuat aku bergerak ataupun diam itu Allah.

Itulah tiga jalan yang bisa ditempuh agar kita semakin mencintai Allah. Sudah sampai dimanakah level kita? Seminimalnya kita ada di level paling rendah untuk mencapai level tertinggi.

Wallahu’alam Bishawab

Sumber: Dr. Fahruddin Faiz, Nasihat ID


Back to Top