Hukum Salat Sambil Membuka Mushaf Alquran

gomuslim.co.id - Salat sambil membawa atau membaca mushaf Alquran banyak dilakukan diantara umat Islam. Ada yang mengatakan itu diperbolehkan, ada pula yang tidak membenarkan hal itu karena berpandangan menambah-nambah gerakan salat. Ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya:

Pertama, melarangnya dengan alasan bahwa orang yang salat sambil membawa mushaf, membolak-balik halaman mushaf, melihat mushaf, dan seterusnya adalah gerakan yang terlalu banyak, padahal itu bukan bagian dari salat. Sementara itu juga tidak diperlukan ketika salat, sehingga hal ini merusak salatnya. Orang yang sedang mengerjakan salat sebenarnya sedang menghadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Orang yang sedang salat, wajib menjaga ketenangan dan khusyu’ (menundukkan diri).

 

Baca juga:

10 Ketentuan Talak dalam Alquran dan Sunnah

 

Ketenangan dan khusyu’ (menundukkan diri), sangat diperlukan dalam menghadap Allah agar dapat mencapai apa yang menjadi tujuan salat, yaitu rahmat, maghfirah, dan hidayah dari Allah. Oleh sebab itu Allah sangat menganjurkannya dalam firman-Nya:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3)

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS. al-Mu’minun (23): 1-3)

Dijelaskan pula dalam sebuah hadis, apabila mengerjakan salat, hendaklah dilakukan dengan konsentrasi seakan-akan Allah Subhanahu wa ta’ala berada di hadapannya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: مَا اْلإِيْمَانُ؟ قَالَ: اْلإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِاْلبَعْثِ. قَالَ: مَا اْلإِسْلاَمُ؟ قَالَ: اْلإِسْلاَمُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَلاَ تُشْرِكَ بِهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ اْلمَفْرُوْضَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ. قَالَ: مَا اْلإِحْسَانُ؟ قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَّمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. رواه البخاري

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu., ia berkata: Pada suatu hari Nabi keluar kepada orang-orang, kemudian datanglah kepadanya seorang laki-laki, lalu berkata: Apakah iman itu? Nabi bersabda: Iman ialah percaya kepada Allah, para malaikat-Nya, akan bertemu dengan-Nya, utusan-utusan-Nya, dan percaya kepada hari kebangkitan. Ia berkata: Apakah Islam itu? Nabi bersabda: Islam ialah menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat fardhu dan puasa pada bulan Ramadhan. Ia berkata: Apakah ihsan itu? Nabi bersabda: Menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, sekalipun kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu …” (HR. al-Bukhari)

Kedua, yaitu membencinya dengan alasan orang yang salat sambil membawa dan membaca mushaf khawatir termasuk tasyabbuh (menyerupai) dengan ahli kitab.

Selain itu, ada pandangan yang ketiga, yaitu membolehkannya. Pandangan inilah yang dipilih dan dipedomani mayoritas ulama dengan alasan hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu:

عَن ابْنِ أَبِي مُلَيكَةَ وَكَانَتْ عَائِشَةُ يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنَ الْمُصْحَفِ (رواه البخاري

“Diriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha. pernah diimami oleh budaknya yang bernama Dzakwan dan dia membaca dari mushaf.” (HR. al-Bukhari secara Muallaq, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf)

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan:

" لو قرأ القرآن من المصحف لم تبطل صلاته سواء كان يحفظه أم لا ، بل يجب عليه ذلك إذا لم يحفظ الفاتحة

"Andaipun membaca Alquran itu dengan melihat dari mushaf, maka ini tidak membatalkan shalatnya, tidak peduli apakah ia orang yang sebenarnya hafal Qur'an atau belum. Bahkan wajib hal itu dilakukan jika ia belum hafal surat Al-Fatihah". (Al Majmu' IV:27).

Syaikh bin Baaz rahimahullah memfatwakan:

يجوز ذلك إذا دعت إليه الحاجة كما تجوز القراءة من المصحف في التراويح لمن لا يحفظ القرآن، … فإذا كان الإمام لا يحفظ المفصل ولا غيره من بقية القرآن الكريم جاز له أن يقرأ من المصحف، ويشرع له أن يشتغل بحفظ القرآن، وأن يجتهد في ذلك، أو يحفظ المفصل على الأقل حتى لا يحتاج إلى القراءة من المصحف

“Hal itu diperbolehkan jika ada keperluan/kebutuhan sebagaimana diperbolehkan membaca mushaf pada shalat tarawih bagi orang yang belum hafal Alquran, jika Imam belum hafal surat Mufashshal atau yang lainnya dari Alquran Al-Karim, boleh baginya membaca dari mushaf. Walaupun disyariatkan baginya untuk menyibukkan diri dan bersungguh-sungguh untuk menghafal Alquran, atau menghafal minimal surat-surat Al Mufashshal, hingga kelak ia tidak lagi perlu membaca dari mushaf (saat shalat)....” (Majmu’ Fatawa Syaikh bin Baaz rahimahullah XI:117).

Sementara Ulama Lajnah Ad Da'imah memfatwakan:

جوز قراءة القرآن في الصلاة من المصحف في رمضان وفي غيره في الفريضة وفي النافلة أثناء الصلاة الجهرية إذا دعت الحاجة إلى ذلك

“Diperbolehkan membaca Al-Qur'an dari mushaf baik itu saat shalat pada bulan Ramadhan atau lainnya, baik itu dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah (khususnya) dalam shalat yang bacaannya dikeraskan, jika memang mendesak dibutuhkan". (Fatawa Lajnah Ad Da’imah no. 9815).

 

Baca juga:

Doa Agar Terhindar dari Mara Bahaya

 

 

Atau berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Rabiul Awwal 1441H bertepatan dengan Rabu (06/11/2019) terkait hukum melihat mushaf Alquran saat sedang shalat.

Dalam fatwa bernomor 49 Tahun 2019 itu, MUI membolehkan seorang Muslim melihat mushaf saat membaca Alquran dalam shalatnya. sepanjang
tidak mengganggu kekhusyu’an dan tidak melakukan gerakan yang membatalkan shalat

Demi terbebasnya dari ketiga perbedaan pendapat di atas, bahwa orang yang salat sambil membawa dan membaca mushaf tidak ada larangan.

Hanya saja, tentu jika orang tersebut berusaha untuk menghafalkannya akan lebih utama, sehingga tidak perlu membawa Alquran ketika salat atau menjadi imam. Tentu dengan syarat tidak banyak gerakan yang tidak berhubungan dengan salat yang dapat membatalkan dan tidak terjaganya kekhusyu’an salat.

Walaupun membawa dan membaca mushaf ketika salat tidak ada larangannya, jangan sampai pelaksanaannya justru memberatkan atau menyusahkan, karena Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan dalam firman-Nya:

… فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ … (المزمّل: 20

“… Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran …” (QS. al-Muzammil (73): 20)

Mengenai pandangan di antara ulama yang membenci orang salat sambil membaca mushaf karena khawatir termasuk tasyabbuh (menyerupai) dengan ahli kitab, merupakan pandangan yang tidak berdasar. Membaca Alquran terlalu jauh untuk disebut meniru ahli kitab, apalagi dibandingkan seperti membaca kitab/buku-buku lainnya. 

Hal ini karena membaca Alquran termasuk amal salat, sementara kitab/buku-buku lain tidak termasuk bagian salat. Sebagaimana kita boleh membaca buku umum yang bermanfaat dan itu tidak termasuk tasyabbuh (menyerupai) terhadap ahli kitab, maka membaca Alquran lebih layak untuk tidak disebut meniru kebiasaan orang kafir.

Wallahu alam bishawab


Back to Top