Ini Hukum Oral Seks Dalam Islam

gomuslim.co.id - Oral seks adalah salah satu jenis aktivitas seks yang kerap dilakukan oleh pasangan suami istri sebelum melakukan hubungan seks. Hampir semua terapis dan juga medis menyatakan oral seks aman dilakukan asalkan memenuhi unsur kesehatan dan juga keamanan. Lalu bagaimana hukum oral seks dalam Islam?

Pada dasarnya tidak ada nash yang jelas dan juga tegas yang mengatur masalah oral seks. Akibatnya banyak ulama berselisih pendapat tentang hukumnya. Ada ulama yang membolehkannya dengan syarat-syarat tertentu dan ada juga yang mengharamkannya.

Berikut beberapa pendapat ulama terkait hukum oral seks:

Hukum Mubah Oral Seks

Beberapa ulama menyebut hukum oral seks adalah mubah atau boleh dilakukan dengan beberapa syarat dan ketentuan. Alasannya adalah karena tidak adanya nash atau dalil yang secara khusus menyikapi hukum boleh tidaknya oral seks.

Ulama golongan ini mengambil dalil dari QS Al-Baqarah ayat 223 yang berbunyi:

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا۟ حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّكُم مُّلَٰقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ

"Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman."

Dalam ayat tersebut seorang suami diperbolehkan untuk mendatangi tanah tempat dia bercocok tanam (istri) dari mana saja dia inginkan kecuali melalui dubur dan ketika istri maenstruasi.

Imam Al Qurthubi –seorang ulama tafsir madzhab Maliki- berkata:

وقد قال أصبغ من علمائنا: يجوز له أن يلحسه بلسانه.

“Telah berkata Ashbagh dari golongan ulama kami (Maliki), “Boleh bagi suami menjilat kemaluan istrinya dengan lidahnya.” (Imam Al Qurthubi, Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Juz. 12, Hal. 222. Dar Ihya Ats Turats Al ‘Araby, Beirut – Libanon. 1985M-1405H)

Imam Al Hathab Rahimahullah berkata:

قد روي عن مالك أنه قال: لا بأس أن ينظر إلى الفرج في حال الجماع ، وزاد في رواية: ويلحسه بلسانه ، وهو مبالغة في الإباحة ، وليس كذلك على ظاهره

Diriwayatkan dari Imam Malik bahwa dia berkata, “Tidak apa-apa melihat kemaluan istri ketika jima’.” Dia menambahkan dalam riwayat lain, “Dan dia menjilatnya dengan lidahnya,” dan ini merupakan penekanan atas kebolehannya, namun tidak demikian pada kenyataannya. (Mawahib Al Jalil, 5/23. Cet edisi khusus. 2003M-1423H. Dar ‘Alim Al Kutub)

 

Imam Ibnu Rusyd Rahimahullah mengatakan dalam Ashlus Sima’ tentang pertanyaan seorang suami yang melihat kemaluan istrinya ketika jima’, dia berkata, “Ya (boleh), dan dia menjilatnya.” (Ibid, 5/24)

Para ulama Syafi’iyyah pun membolehkan, Imam Zainuddin Al Malibari Rahimahullah mengatakan:

يجوز للزوج كل تمتع منها بما سوى حلقة دبرها ولو بمص بظرها ….

Dibolehkan bagi suami semua bentuk bersenang-senang terhadap istrinya, kecuali pada duburnya, walau pun menjilat clitoris istrinya… (Fathul Mu’in, 3/340. Darul Fikr. Beirut)

Imam Abu Bakar Ad Dimyathi Rahimahullah menjelaskan kalimat di atas:

أي ولو كان التمتع بمص بظرها فإنه جائز

Yaitu walau dia bersenang-senang dengan menjilat clitorisnya maka itu boleh. (I’anatuth Thalibin, 3/340. Darul Fikr. Beirut)

Sementara pandangan kalangan Hambaliyah, disebutkan Imam Al Buhuti Rahimahullah:

(قال القاضي يجوز تقبيل فرج المرأة قبل الجماع ويكره) تقبيله (بعده)

Berkata Al Qadhi, “Boleh mencium kemaluan istri sebelum jima’ dan dimakruhkan menciumnya setelah jima’.” (Kasyaf Al Qina’, 1/2. Darul Fikr)

Ulama yang membolehkan oral seks yang lain adalah Prof DR Ali Al Jumuah dan Dr Sabri Abdur Rauf yang merupakan pengajar dan ahli Fiqih dari Universitas Al Azhar, Kairo.

Kedua ulama ini berpendapat oral seks adalah bagian aktifitas seks yang boleh dilakukan terlebih jika hal tersebut sangat dibutuhkan untuk mendapatkan kepuasan seksual dari pada jatuh ke dosa zina. Ulama lain yang membolehkannya adalah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin yang menyebut oral seks adalah perilaku yang kurang bagus tapi hukumnya boleh.

Pendapat yang sedikit lebih tegas tentang hukum oral seks dikeluarkan oleh ulama kharismatik Mesir, Syaikh Yusuf Al Qardhawi yang menyatakan hukum oral seks adalah boleh tapi dengan batasan menghindari air madzi atau air mani.

Hukum Makruh Oral Seks

Meskipun oral seks adalah bagian dari aktifitas sekual, beberapa ulama berpendapat bahwa hukum melakukan oral seks adalah makruh dan lebih cenderung untuk melarangnya. Alasannya karena oral seks tidak sesuai dengan fitrah manusia dan oral seks memiliki bahaya terutama berkaitan dengan kebersihan dan kesehatan.

Manusia diberi mulut dan lidah untuk berbicara yang baik-baik dan membaca ayat suci Al quran, maka tidak lah pantas mulut yang sama tersebut digunakan untuk mencium atau menjilat sesuatu yang tidak suci karena mengeluarkan najis seperti air kencing, madzi dan mani.

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ رَجُلًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَسَأَلَ فَقَالَ تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ

 

Dari ‘Ali, dia berkata, “Saya adalah laki-laki yang mudah keluar madzi, maka aku perintah seseorang untuk bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lantaran posisiku sebagai mantu beliau (maksudnya Ali malu bertanya sendiri), maka orang itu bertanya, lalu Rasulullah menjawab, “Wudhulah dan cuci kemaluanmu.” (HR. Bukhari No. 269)

Melakukan oral seks adalah perbuatan binatang dalam melakukan kegiatan reproduksi dan karena fitrah manusia adalah melakukan hal yang baik-baik maka mencium, menjilat alat kelamin pasangan tidak boleh atau makruh dilakukan.

Hukum Haram Oral Seks

Selain makruh dan mubah, ada beberapa ulama juga yang mengeluarkan fatwa bahwa hukum oral seks adalah haram dan melakukannya adalah perbuatan dosa. Ulama yang paling tegas menolak dan mengharamkan aktifitas seksual ini adalah Asy-Syaikh AI-`Allamah Muhammad Nashiruddin AI-Albany.

Beliau menjawab oral seks adalah perbuatan yang menyerupai hewan seperti anjing dan kucing. Dan ada banyak sekali hadis dari Nabi yang melarang kita menyerupai tindakan hewan. Nabi juga telah melarang kita menyerupai orang-orang kafir termasuk dalam urusan seks.

"Mengisap kemaluan suami (oral seks) adalah haram dilakukan karena kemaluan suami dapat memancarkan air madzi yang bersifat najis (kesepakatan ulama). Apabila madzi tertelan dan masuk ke dalam perut maka dapat menyebabkan timbulnya penyakit dan karena itu bukan hal yang baik."

Al Albany juga mengutip fatwa dari ulama terkenal Arab Saudi, Abdul Azis bin Baz yang telah mengeluarkan fatwa haram oral seks.

Sementara itu Syaikh AI-`Allamah `Ubaid berpendapat sama dengan Al Albany dengan menyatakan bahwa oral seks adalah perbuatan binatang dan seorang suami wajib menghormati istrinya dan tidak melakukan hubungan seks kecuali atas perintah Allah.

Wallahu a’lam Bishawab


Back to Top