Hukum Merayakan Ulang Tahun Menurut Syariat Islam

gomuslim.co.id - Perayaaan ulang tahun tentunya sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Entah itu keluarga sendiri yang mengadakannya, tetangga, sahabat, atau teman-teman kita.

Perayaan ulang tahun tentunya salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat umur yang diberikan oleh Allah SWT. Atau bisa jadi pengingat diri bahwa umurnya sudah bertambah, dan waktunya harus berbuat sesuatu yang baik dan benar dalam hidup.

Nah, bagaimana pandangan Islam dalam merayakan ulang tahun?

Menurut Darul Ifta’ Al-Misriyyah, lembaga fatwa Mesir disebutkan bahwa merayakan hari ulang tahun tidak dilarang oleh syara’ atau agama. Selama di dalamnya bertujuan untuk mensyukuri nikmat Allah SWT atas kelahirannya.

Al-khothib Asy-Syirbini dalam Kitab Al-Iqna’ fi Halli Alfazhi Abi Syuja merayakan ulang tahun hukumnya mubah, tidak sunah dan tidak bid’ah.

قَالَ الْقَمُوْلِيْ: لَمْ أَرَ لأَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِنَا كَلاَمًا فِي التَّهْنِئَةِ بِالْعِيْدِ وَاْلأَعْوَامِ وَاْلأَشْهُرِ كَمَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ، لَكِنْ نَقَلَ الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ عَنِ الْحَافِظِ الْمُقَدَّسِيِّ أَنَّهُ أَجَابَ عَنْ ذَلِكَ بِأَنَّ النَّاسَ لَمْ يَزَالُوْا مُخْتَلِفِيْنَ فِيْهِ وَالَّذِيْ أَرَاهُ أَنَّهُ مُبَاحٌ لاَ سُنَّةٌ فِيْهِ وَلاَ بِدْعَةٌ وَأَجَابَ الشِّهَابُ ابْنُ حَجَرٍ بَعْدَ اطِّلاَعِهِ عَلَى ذَلِكَ بِأَنَّهَا مَشْرُوْعَةٌ وَاحْتَجَّ لَهُ بِأَنَّ الْبَيْهَقِيَّ عَقَّدَ لِذَلِكَ بَابًا فَقَالَ: بَابُ مَا رُوِيَ فِيْ قَوْلِ النَّاسِ بَعْضِهِمْ لِبَعْضٍ فِي الْعِيْدِ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ، وَسَاقَ مَا ذُكِرَ مِنْ أَخْبَارٍ وَآثَارٍ ضَعِيْفَةٍ لَكِنْ مَجْمُوْعُهَا يُحْتَجُّ بِهِ فِيْ مِثْلِ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ وَيُحْتَجُّ لِعُمُوْمِ التَّهْنِئَةِ بِمَا يَحْدُثُ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ يَنْدَفِعُ مِنْ نِقْمَةٍ بِمَشْرُوْعِيَّةِ سُجُوْدِ الشُّكْرِ وَالتَّعْزِيَةِ وَبِمَا فِي الصَّحِيْحَيْنِ عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ فِيْ قِصَّةِ تَوْبَتِهِ لَمَّا تَخَلَّفَ عَنْ غَزْوَةِ تَبُوْكَ أَنَّهُ لَمَّا بُشِّرُ بِقَبُوْلِ تَوْبَتِهِ وَمَضَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ إِلَيْهِ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ فَهَنَّأَهُ.

Artinya : “Imam Qommuli berkata : kami belum mengetahui pembicaraan dari salah seorang ulama kita tentang ucapan selamat hari raya, selamat ulang tahun tertentu atau bulan tertentu, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang, akan tetapi al-hafidz al-Mundziri memberi jawaban tentang masalah tersebut : memang selama ini para ulama berselisih pendapat, menurut pendapat kami, tahni’ah itu mubah, tidak sunnah dan tidak bid’ah, Imam Ibnu Hajar setelah mentelaah masalah itu mengatakan bahwa tahni’ah itu disyari’atkan, dalilnya yaitu bahwa Imam Baihaqi membuat satu bab tersendiri untuk hal itu dan dia berkata : “Maa ruwiya fii qaulin nas” dan seterusnya, kemudian meriwayatkan beberapa hadits dan atsar yang dla’if-dla’if. Namun secara kolektif riwayat tersebut bisa digunakan dalil tentang tahni’ah. Secara umum, dalil dalil tahni’ah bisa diambil dari adanya anjuran sujud syukur dan ucapan yang isinya menghibur sehubungan dengan kedatangan suatu mikmat atau terhindar dari suatu mala petaka, dan juga dari hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa sahabat Ka’ab bin Malik sewaktu ketinggalan/tidak mengikuti perang Tabuk dia bertaubat, ketika menerima kabar gembira bahwa taubatnya diterima, dia menghadap kepada Nabi SAW. maka sahabat Thalhah bin Ubaidillah berdiri untuk menyampaikan ucapan selamat kepadanya”.

Adapun dasar diperbolehkannya merayakan hari ulang tahun adalah berdasakan ayat Alquran dan hadis berikut ini.

وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا

"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Q.S. Maryam/19: 33)

عن أبى قتادة الأنصاري رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم سئل عن صوم يوم الإثنين؟ فقال: «ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ- أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ-» رواه مسلم

Dari Abi Qatadah Al-Anshariyah r.a., bahwasannya Nabi saw. ditanyai tentang puasa Senin. Lalu beliau bersabda, “Pada hari itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari ketika aku diutus/ diturunkan kepadaku wahyu pada hari itu.” (H.R. Muslim)

Hari lahirnya manusia adalah hari kenikmatan yang wajib disyukuri. Bahkan hadis tersebut pun dapat dijadikan dalil diperbolehkannya merayakan semua hari-hari yang terdapat kenimatan-kenikmatan di dalamnya.

Selain untuk mensyukuri nikmat Allah, perayaan hari ulang tahun adalah untuk menunjukkan kebahagiaan atas semua nikmat Allah swt. atau min babi syukrillah ta’ala. Sebagaimana firman Allah SWT.

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Q.S. Yunus/10: 58)

Ketika merayakan hari ulang tahun juga diperbolehkan mengundang kerabat dan sahabat untuk turut merayakannya. Selama di dalamnya bertujuan untuk idkhalus surur/membahagiakan hatinya. Dan hal itu pun termasuk perkara-perkara yang disunnahkan oleh syara’. Hal ini berdasarkan pada riwayat-riwayat sebagai berikut.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «تُدْخِلُ عَلَى أَخِيكَ الْمُؤْمِنِ سُرُورًا، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تُطْعِمُهُ خُبْزًا» أخرجه ابن شاهين في “الترغيب”.

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. pernah diajukan pertanyaan. “Amal apa yang paling utama?” Beliau bersabda, “Hendaknya kamu membahagiakan saudaramu yang mukmin, melunasi hutangnya, atau memberikan makan untuk sepotong roti.” (HR. Ibnu Syahin)

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ: أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «إِدْخَالُكَ السُّرُورَ عَلَى مُؤْمِنٍ أَشْبَعْتَ جَوْعَتَهُ، أَوْ كَسَوْتَ عُرْيَهُ، أَوْ قَضَيْتَ لَهُ حَاجَةً» أخرجه الطبراني في “الأوسط”

Dari Umar bin Al-Khattab r.a., ia berkata, Rasulullah saw. ditanya, “Amal-amal yang paling utama?” Beliau bersabda, “Engkau membahagiakan saudara mukminmu, mengenyangkannya yang lapar, memberikan pakaian kepadanya, atau menyelesaikan keperluan untuknya.” (H.R. At-Thabrani)

عن محمد بن مسلم -وهو الطائفي- أنه بلغه أن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم قال: «مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ بَعْدَ الْفَرَائِضِ إِدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى الْمُؤْمِنِ» أخرجه ابن وهب في “جامعه”

 

Dari Muhammad bin Muslim, ia bangsa Thaif, telah sampai kepadanya bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Termasuk amal-amal yang paling utama setelah ibadah-ibadah yang fardhu (wajib) adalah membahagiakan orang mukmin.” (H.R. Ibnu Wahb)

Dengan demikian, pada dasarnya di dalam perayaan ulang tahun itu terdapat dasar secara syara’nya seperti mensyukuri nikmat Allah, menyebut-nyebutnya, mengingat hari-hari Allah, dan membahagiakan orang mukmin. Maka, perayaan ulang tahun itu diperbolehkan selama di dalamnya tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Doa Ulang Tahun Sesuai Syariat Islam

Dalam salah satu doa yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas bin Malik, khadim Rasulullah SAW menjelaskan sebuah doa yang cocok untuk dibaca untuk orang yang ulang tahun, berikut doanya.

اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَاله، وَوَلَده، وَبَارِكْ له فِيمَا أعْطَيْتَه وَأطِلْ حَيَاته عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَله وَاغْفِرْ له

Artinya : “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, dan berkahilah semua hal yang telah engkau berikan kepadanya dan panjangkan umurnya untuk senantiasa taat kepada-Mu, perbaikilah amalnya serta ampuni dosanya.”

اَللَّهُمَّ طَوِّلْ عُمُورَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَوَسِّعْ أَرْزَقَنَا وَإِلَى الخَيْرِ قَرِّبْنَا وَعَنِ الشَّرِّ اَبْعِدْنَا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالۤاخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya: Ya Allah panjangkanlah umur kami, sehatkanlah badan kami, terangilah hati kami, kuatkanlah hati kami, baikkanlah amal kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami dengan kebaikan dan jauhkanlah kami dengan kejahatan. Kabulkanlah semua kebutuhan kami dalam agama di dunia ataupun di akhirat. Sesungguhnya hanya Engkaulah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.

Selain doa untuk panjang umur di atas, masih ada lagi doa yang lain, salah satunya adalah doa berikut ini:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Artinya: Ya Tuhan kami, Anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan anak cucu kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Itulah ulasan mengenai hukum merayakan ulang tahun dalam islam. Semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi kita semua untuk selalu berpegang teguh dalam ajaran islam agar selamat dunia dan akhirat kelak.

Wallahu a’lam Bishawab


Back to Top