Ini Hukum Menggunakan Hand Sanitizer Beralkohol dalam Islam 

gomuslim.co.id - Di tengah pandemi COVID-19 ini, masyarakat dianjurkan menggunakan hand sanitizer guna mengurangi risiko terkena virus corona. Hand Sanitizer berbasis alkohol dengan minimal 60 persen dipercaya lebih efektif untuk membunuh kuman dan mikroorganisme berbahaya termasuk pencegahan virus corona.

Lalu, bagaimana hukumnya memakai hand sanitizer beralkohol dalam Islam?

Bedasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) NO : 11 tahun 2009 tentang hukum Alkohol bahwa khamer adalah najis. Namun tidak setiap Alkohol hukumnya najis. Alkohol yang najis hanyalah Alkohol yang berasal dari khamer, adapun yang tidak berasal dari khamer, maka hukumnya tidak najis.

Dalam fatwanya MUI menyebut khamr adalah setiap minuman yang memabukkan, baik dari anggur ataupun yang lainnya, baik dimasak ataupun tidak. Adapun Alkohol, adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apapun yang memiliki gugus fungsional yang disebut gugus Hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon. Rumus umum senyawa Alkohol tersebut adalah R-HO atau Ar-OH, dimana R adalah gugus Alkil dan Ar adalah gugul aril.

 

Baca juga:

Hukum Menjaga Amanah dalam Islam

 

Hal ini bisa diartikan Hand Sanitizer yang mengandung Alkohol (minimal 60%), status hukumnya tidak najis dan boleh digunakan. Karena Alkohol yang ada di dalamnya berasal dari hasil industri non Khamer (baik merupakan hasil sintesis kimiawi dari petrokimia ataupun hasil industri fermentasi non Khamer). Dan hal ini juga berlaku pada proses produksi produk pangan, makanan, minuman, kosmestika dan obat-obatan. Tapi pembolehan ini dengan catatan, apabila secara medis tidak membahayakan dan hukumnya haram apabila secara medis membahayakan.

Ketua Komisi Hukum MUI Mohammad Baharun menyebut hal tersebut termasuk masa'il fiqhiyah atau perkara hukum fikih. Ada sejumlah ulama yang berbeda pendapat soal hal ini.

Ada sebagian pendapat ulama (yang hati-hati) yang menyatakan alkohol ini najis, karena minuman keras berbahan dari alkohol. Pendapat lainnya mengatakan tidak najis karena zat itu aslinya tidak najis. Tapi jika alkohol itu sudah diramu jadi minuman yang dapat memabukkan, maka hukumnya najis.

 

Baca juga:

Ini Dalil 20 Sifat Wajib Bagi Allah SWT

 

Pada prinsipnya, kata Ketua MUI agama itu memudahkan, bukan menyulitkan. Kecuali pada ketetapan-ketetapan yang sudah dipastikan hukumnya dalam nash.

Berikut beberapa pendapat ulama yang membolehkan penggunaan alkohol:


ومنها المائعات النجسة التي تضاف إلى الأدوية والروائح العطرية لإصلاحها فإنه يعفى عن القدر الذي به الإصلاح قياسا على الأنفحة المصلحة للجبن

Artinya, “Salah satu (yang dimaafkan) adalah cairan-cairan najis yang dicampurkan pada obat dan aroma harum parfum untuk memberi efek maslahat padanya. Hal ini terbilang dimaaf sebatas minimal memberi efek maslahat berdasarkan qiyas atas aroma yang memberi efek maslahat pada keju,” (Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqhu ala Madzahibil Arba‘ah, juz I, halaman 15).

مادة الكحول غير نجسة شرعاً، بناء على ماسبق تقريره من أن الأصل في الأشياء الطهارة، سواء كان الكحول صرفاً أم مخففاً بالماء ترجيحاً للقول بأن نجاسة الخمر وسائر المسكرات معنوية غير حسية، لاعتبارها رجساً من عمل الشيطان

Artinya, “Zat alkohol tidak najis menurut syara’ dengan dasar (kaidah) yang telah lalu, yaitu segala sesuatu asalnya adalah suci baik ia adalah alkohol murni maupun alkohol yang telah dikurangi kandungannya dengan campuran air dengan mengunggulkan pendapat yang mengatakan bahwa najis khamr dan semua zat yang memabukkan bersifat maknawi, bukan harfiah, dengan pertimbangan bahwa itu adalah kotor sebagai perbuatan setan,” (Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz VII, halaman 210).

Dengan demikian hukum penggunaan hand sanitizer yang mengandung alkohol untuk membunuh virus atau mencegah penularan virus corona atau COVID-19 dapat dibenarkan dan boleh digunakan. (Mr/mui)


Back to Top