Menahan Amarah Berhadiah Bidadari Surga

gomuslim.co.id - Marah, siapa yang tak mengenal istilah ini? Sebagai makhluk yang dibekali hawa nafsu, tentu semua manusia pernah mengalami sebab marah juga termasuk luapan emosi.

Marah juga merupakan satu bentuk ekspresi manusia ketika ada seseorang yang berbuat salah maupun sesuatu yang tidak dikehendakinya. Marah adalah hal manusiawi. Namun ketika luapan emosi ini tak sanggup mengontrol diri, maka akibat yang kurang baik pun akan sangat mungkin menghampiri.

Setiap orang pasti pernah mengalami marah. Karena rasa marah atau emosi terkadang sulit untuk ditahan. Padahal memelihara amarah merupakan sifat tercela.

Dalam surah surat Ali Imran, Allah berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran [3]: 134)”

Allah sendiri tidak menyukai orang-orang yang menyimpan rasa marah. Rasulullah SAW bersabda, "Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang- orang uang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang- orang yang berbuat kebajikan,". (QS. Ali Imran: 134).

Sebagai manusia biasa, memang tidak mudah untuk menahan amarah. Terlebih lagi penyebab kemarahan datang akibat kesalahan dari orang yang dipercaya. Tak jarang karena marah menimbulkan perkelahian atau melukai seseorang.

Menurut sebagian besar para mufassir, kata al-ghayzh berarti al-ghadhab (marah). Hayyan al-Andalusi dalam Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, mengatakan bahwa perasaan marah biasanya dilampiaskan dalam bentuk ucapan seperti umpatan, celaan, dan semacamnya; atau dalam bentuk perbuatan seperti memukul, menendang, dan semacamnya. Menahan marah berarti menahan diri dari ucapan atau perbuatan yang menjadi bentuk pelampiasan marah tersebut.

Berkenaan dengan marah, Islam tak hanya memerintahkan umatnya untuk menahannya. Lebih dari itu, syariah juga mengajarkan metode untuk meredakan kemarahan. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari setan dan sesungguhnya setan itu diciptakan dari api, sementara api bisa dipadamkan oleh air. Karena itu, jika salah seorang di antara kalian sedang marah, hendaklah dia berwudhu (HR Abu Dawud dari Athiyah)”.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian sedang marah dalam keadaan berdiri, hendaklah dia duduk jika kemarahan itu dapat hilang. Apabila (kemarahan) itu tidak hilang, hendaklah dia berbaring (HR Abu Dawud dari Abu Dzar)”.

Menahan marah itu memang tidak mudah mengingat sumber amarah itu berasal dari setan. Namun, kabar baiknya, selain menyehatkan badan dan pikiran, menahan marah mampu mendatangkan keberkahan. Seperti kata-kata Umar bin Khattab, “Aku mencari keberkahan dari sebagian besar pintu-pintu rezeki dan tidaklah kutemukan keberkahan itu selain dari sabar, “ (Umar bin Khattab ra). 

Seharusnya sebagai orang taat kepada Allah bisa menahan nafsu marah. Menahan marah bakal menciptakan akhlak baik. Menahan marah bukan berarti orang lemah, tapi terdapat jiwa sabar dan bersih sehingga dapat memaafkan kesalahan orang lain.

"Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidam lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah". (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Mungkin hanya segelintir orang yang bisa menahan hawa nafsu untuk menahan amarah. Padahal jika bisa melakukan hal itu, di akhirat nanti Allah menjanjikan bidadari surga bermata jeli.

"Barang siapa menahan kemarahannya padahal dia mampu melampiaskannya maka Allah Taala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya,". (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi). (hmz)

Sumber:

- Buku ‘Laa Taghdhab, Jangan Marah’, Penulis DR. Aidh Al-Qarni, Penerbit Al Qalam


Back to Top