Bolehkah Menolak Lamaran Dalam Islam? Ini Penjelasannya

gomuslima.co.id - Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiallahu anhuma pernah melamar Fatimah radhiallahu anha putri Rasulullah SAW.

Dari Buraidah radhiallahu anhu, beliau menceritakan,

“Abu Bakar dan Umar pernah melamar Fathimah. Namun Nabi Muhammad mengatakan, ‘Dia masih kecil.’ Kemudian Fatimah dilamar Ali, lalu Rasulullah menikahkannya dengan Ali.” (HR. Nasai, Ibnu Hibban, Al Hakim)

Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiallahu anhuma, masing-masing datang menemui Nabi SAW hendak melamar Fatimah. Rasulullah menolak lamaran keduanya dengan mengatakan bahwa Fatimah masih kecil.

Saat itu (tahun kedua Hijriyah) usia Fatimah sekitar 15 tahun. Ada pula ahli sejarah yang mengatakan usia Fatimah saat itu 20 tahun. Adapun saat itu usia Abu Bakar Ash Shiddiq 52 tahun dan usia Umar 42 tahun.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk melamar (wanita kalian), maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut (dengan wanita kalian). Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi)

Dari Hadits Abu Hurairah di atas, mereka yang memiliki penyakit di dalam hati telah bersangka buruk kepada Sahabat Rasulullah. Ia menyimpulkan bahwa penolakan Nabi atas lamaran keduanya menunjukkan bahwa pelamar tersebut buruk agama dan akhlaknya. Ini merupakan kesalahan fatal dalam memahami hadits di atas.

Ini merupakan tuduhan dusta kepada Sahabat yang dijamin Allah,

Radhiallahu anhum wa radhuu anhu” (Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah) (Surat At Taubah 100)

Rasulullah telah menegaskan dalam banyak hadits bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiallahu anhuma sebagai orang-orang yang diridhai agama dan akhlak mereka.

Di antaranya ketika Rasulullah ditanya, “Siapakah di antara manusia yang paling engkau cintai wahai Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, “Aisyah.”

Beliau ditanya lagi, “Kalau dari pria?”

Beliau menjawab, “Ayahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah bersabda: “Seandainya ada Nabi setelahku maka Umar lah orangnya.” (Hadits Hasan riwayat Tirmidzi).

Menolak Lamaran

Tertolaknya suatu lamaran tidak harus disebabkan buruknya agama dan akhlak pelamar. Wali perempuan atau seorang perempuan boleh menolak lamaran dari orang yang baik agama dan akhlaknya dengan alasan yang tidak bertentangan dengan syariah.

Ummu Hani binti Abu Thalib radhiallahu anha menolak lamaran Rasulullah dengan alasan usianya telah tua dan memiliki banyak anak.

Ummu Hani khawatir jika menikah dengan Nabi akan mengakibatkannya menelantarkan anak-anaknya dan atau menelantarkan Rasulullah SAW.

Bisa jadi wali perempuan memiliki firasat bahwa ada sifat-sifat pada anaknya yang tidak cocok dengan sifat-sifat laki-laki yang melamarnya.

Tidak diterima lamaran seseorang tidak boleh menjadikan putus hubungan persaudaraan dan persahabatan. Persaudaraan dan persahabatan yang dibangun ikhlas karena Allah akan tetap langgeng dengan saling bersangka baik kepada saudaranya dan meyakini bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk semuanya.

Hubungan Nabi dengan Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhuma sangat kuat sampai akhir hayat Nabi. Ketika Nabi Muhammad wafat, beliau ridha kepada keduanya.

Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiallahu anhuma melamar Fatimah radhiallahu anha dengan harapan mendapatkan tambahan kemuliaan menjadi menantu Rasulullah. Mereka berdua ingin lebih dekat lagi dalam hubungan kekeluargaan dengan Nabi.

Mereka berdua melamar bukan semata-mata hendak menjaga kesucian diri supaya terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Sehingga ketika keduanya ditolak tidak dikhawatirkan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar.

Jika seorang anak perempuan suka dengan laki-laki shalih yang melamarnya tapi orangtua perempuan melarangnya karena laki-laki itu bukan dari kerabatnya, atau tidak bergelar sarjana atau belum mapan dalam ekonomi maka dikhawatirkan akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar.

Jika anak perempuan menolak dengan alasan calon suaminya bukan dari kerabat atau tidak cocok dari wajah atau penampilan fisik maka wali perempuan tidak boleh memaksanya. Para ulama kita menganjurkan wali untuk menjelaskan kepada anak perempuan tersebut dengan lemah lembut tapi tidak dengan memaksanya.

Rasulullah sangat mencintai Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib serta semua Sahabat radhiallahu anhum.

Rasulullah menikah dengan Aisyah putri Abu Bakar. Rasulullah menikah dengan Hafshah putri Umar.

Rasulullah menikahkan putrinya Ruqayyah dengan Utsman bin Affan. Setelah Ruqayyah wafat, Rasulullah menikahkan putrinya Ummu Kultsum dengan Utsman lagi. Terakhir Rasulullah menikahkan putri bungsunya yaitu Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian sempurnalah kedekatan Rasulullah dengan keempat Khulafaur Rasyidin radhiallahu anhum. Wallahua'lam Bisshawab. (hmz)

Sumber:

- Buku 'Saatnya untuk Menikah', Penulis Mohammad Fauzil Adhim, Penerbit Proumedia


Back to Top