Ini Perbedaan Makna Istilah ‘Qurban’ dan ‘Udhiyyah’

gomuslim.co.id – Idul Adha 1441H telah dilakukan sejak Jumat kemarin hingga Senin. Dari dulu hingga sekarang, Idul Adha identik dengan qurban atau berkurban. Padahal, Rasulullah SAW menyebutkan bukan dengan ‘Qurban’. Lalu, apa yang Rasulullah SAW gunakan kata ‘Qurban’ di momen Idul Adha?

Penyebutan kurban untuk ritual penyembelihan yang dilakukan oleh kita, umat Islam di hari raya Idul Adha dan juga 3 hari setelahnya; yakni hari tasyriq, tidaklah tepat jika disebut dengan istilah kurban. Akan tetapi penyebutan kurban juga bukan sesuatu yang keliru.

Akan tetapi, penyebutan kurban untuk ritual penyembelihan yang dilakukan oleh kita; umat Islam di hari raya Idul Adha dan juga 3 hari setelahnya; yakni hari tasyriq, tidaklah tepat jika disebut dengan istilah kurban. Akan tetapi penyebutan kurban juga bukan sesuatu yang keliru.

Istilah ‘Qurban’ Tidak Tepat

Ketidaktepatan itu berada pada istilahnya. Bahwa istilah yang dipakai oleh ulama untuk menyebut ritual ini bukanlah istilah “kurban”, melainkan istilah “Udhiyyah”. Istilah inilah yang kita dapati dalam kitab-kitab fiqih yang ada dalam khazanah keilmuan Islam. Di sini letak tidak tepatnya.

Penyebutan istilah kurban bukanlah penyebutan yang dipakai oleh ulama dalam kitab-kitab mereka. Kesemuanya sepakat bahwa ritual penyembelihan hewan ternak di hari lebaran haji dan 3 hari tasyriq setelahnya bukanlah “kurban”; melaikan istilah “Udhiyyah”.

  • Makna Udhiyyah

Secara bahasa, Udhiyah adalah kambing yang disembelih pada waktu dhahwah, yaitu kala matahari agak meninggi dan sesudahnya.

Secara bahasa juga ada pengertian yang nyaris mirip dengan pengertian bahasa di atas, yaitu : Kambing yang disembelih pada hari Adha.

Sedangkan menurut istilah dalam syariah Islam, kata udhiyah bermakna : Hewan yang disembelih dengan tujuan bertaqarrub kepada Allah SWT di hari Nahr dengan syarat-syarat tertentu.

Jadi untuk menyebut ritual penyembelihan hewan ternak di hari Idul Adha dan 3 hari Tasyriq setelahnya itu, ulama memakai istilah Udhhiyyah. Ini menginduk kepada waktu penyembelihannya itu sendiri yang memang –afdhalnya- dilakukan di waktu dhuha sebagaimana apa yang dikerjakan oleh Ibrahim AS, dan juga Nabi Muhammad SAW; yakni waktu Dhuha. Karena itu namanya Udhhiyyah, dari kata Dhuha.

  • Nabi SAW Pakai Kata Udhiyyah

Dan istilah itu juga yang disebutkan oleh Nabi SAW dalam hadits-haditsnya. Sebagaimana berikut ini:

“Rasulullah SAW menyembelih dua ekor kambing kibash yang bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangan beliau, sambil menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di atas pangkal lehernya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini, Nabi SAW menyebut dengan istilah “Dhohha” yang merupakan akar kata dari Dhohiyyah atau Udhiyyah, bukan Qarraba yang merupakan akar kata Qurban. Selain itu juga ada hadits lainnya :

Dari Abi hurairah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Siapa yang memiliki kelapangan tapi tidak menyembelih kurban, janganlah mendekati tempat salat kami”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim menshahihkannya).

“Siapa menjual kulit hasil sembelihan kurban, maka tidak ada kurban baginya.” (HR. Al Hakim).

Ini juga sama sebagaimana hadits sebelumnya, bahkan dalam hadits ini eksplisit sekali Nabi SAW menyebut bahwa ritual ini namanya Udhiyyah bukan kurban.

Jadi, letak kekeliruannya bahwa istilah kurban atau Kurban bukanlah istilah yang dipakai oleh ulama untuk menyebut ritual ibadah ini, bahkan Nabi SAW juga tidak memakai itu.

Istilah Kurban Tidak Keliru

Nah, sebagaimana disebut di atas bahwa penyebutan Qurban atau Kurban tidak mutlak keliru, karena di satu sisi, ia adalah penyebutan yang juga bisa diterima. Dari sisi mana penyebutan ini bisa diterima?

  • Menyebut Induk untuk Turunannya

Penyebutan kurban memang tidak keliru. Karena kalau kita telusuri, atau lebih jeli melihatnya, ternyata Qurban atau Kurban adalah induk dari Udhhiyyah itu sendiri.

Kata kurban berasal dari kata qarraba – yuqarribu – qurbanan, yang berarti mendekatkan diri kepada Allah. Dan segala bentuk ibadah pada dasarnya memang upaya taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah SWT. Termasuk di dalamnya adalah Udhhiyyah; karena inti Udhhiyyah adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT dari seorang hamba-Nya dengan sebuah pendekatan; yakni hewan ternak itu; Qurban.

Jadi, kata qurban atau kurban adalah bentuk mashdar atau adjektif dari kata qarrab yang berarti mendekati. Bisa diartikan kurban itu adalah media atau alat pendekatan. Yang mendekat adalah hamba, yang didekati adalah Allah SWT dan alat pendekatannya adalah hewan sembelihan itu.

Jadi, sebenarnya menyebut kurban untuk udhhiyyah adalah bentuk penyebutan induk untuk turunannya. Dan itu biasa juga tidak terlalu bermasalah. Hanya saja jika kita sebut kurban, item kurban itu sangat luas dan banyak. Karena memang kurban itu sendiri artinya pendekatan diri kepada Tuhan. Dan alat atau media yang dijadikan oleh hamba untuk mendekati Tuhannya bisa beragam dan bermacam-macam.

Bersedekah itu juga bagian dari kurban. Menyebrangi orang tua renta dari sisi jalan ke sisi lainnya juga termasuk kurban. Memberikan sebagian harta untuk operasional masjid atau pesantren juga bagian dari kurban. Mengajar anak-anak mengaji Alquran juga bagian dari kurban.

Secara umum, bahwa apa saja yang dilakukan seseorang dan diniatkan sebagai taqarrub atau pendekatan kepada Allah SWT itu adalah kurban.

Jadi item kurban itu memang sangat banyak sekali, dan sangat luas. Udhiyyah yang merupakan penyembelihan hewan ternak di hari raya Idul Adha itu merupakan salah satu makna atau salah satu item kurban itu sendiri.

Gambarannya bahwa penyebutan kurban atau qurban untuk ritual penyembelihan hewan ternak di hari 10, 11, 12 dan 13 dzulhijjah yang merupakan nama resminya Udhiyyah adalah penyebutan yang kurang tepat tapi juga tidak keliru. Seperti menyebut zakat dengan istilah sedekah atau infak.

Dari sini kita mendapat pengertian bahwa kurban tidak selalu berarti hewan sembelihan, tetapi apa pun yang bisa dipersembahkan kepada Allah. Istilah yang lebih spesifik dan baku untuk ibadah kurban ini adalah udhiyah.

Ibadah penyembelihan hewan kurban itu dikenal juga dengan istilah udhiyah (أضحية (sebagai bentuk jamak dari bentuk tunggalnya dhahiyyah (ضحية).

Dalam istilah yang baku, hewan-hewan kurban disebut dengan hewan adhahi (أضاحي ), yaitu hewan yang disembelih untuk ibadah ritual pada tanggal 10 Zulhijjah setelah usai salat Idul Adha hingga tanggal 13 bulan yang sama.

Jadi menyebut kurban atau udhiyyah adalah pilihan dan selera. Silahkan dipilih seleranya msing-masing. Wallahua'lam Bisshawab. (hmz)

 

Sumber:

- Buku Antara Pekurban, Panitia & Tukang Jagal, Ahmad Zarkasih, Lc, Rumah Fiqih Publishing, Rumah Fiqih Indonesia


Back to Top