Ini 10 Hadits Dhaif Seputar Kurban

gomuslim.co.id - Berkurban dengan memotong hewan pada 10 Dzulhijjah adalah disyariatkan meskipun ada perbedaan ulama tentang hukumnya apakah wajib atau sunnah.

Dalil disyariatkannya kurban ada di dalam Alquran dan hadits. Tapi Ketahuilah bahwa tidak semua hadits tentang kurban semuanya adalah shahih.

Para ulama telah menemukan banyak hadits lemah, palsu bahkan tidak ada asal usulnya, tentang kurban. Seperti hadits yang menyebutkan bahwa hewan kurban itu nanti menjadi tunggangan kita ketika melewati jembatan shirath. Itu adalah hadits dhaif jiddan. Karena dalam sanadnya adalah perawi yang bernama Yahya bin Wahab (perawi yang sangat lemah sekali). Demikian pula yang disebutkan dalam hadits bahwa setiap bulu-bulu hewan kurban tersebut yaitu akan mengangkat derajat dan menggugurkan dosa, itu juga riwayat yang lemah. 

Bahkan Ibnul ‘Arabi mengatakan bahwa semua hadits yang menyebutkan tentang keutamaan kurban adalah hadits yang dhaif.

Berikut ini adalah hadits-hadits dhaif seputar kurban:

Hadits Pertama

مَاعَمِلَ اِبْنُ اَدَمُ فِيْ هَاذَا اْليَوْمِ أَفْضَلُ مِنْ دَمٍ يُهْرَاقُ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ رَحِمًا تَوْصَلُ

“Tidaklah anak Adam pada hari ini ( hari raya Adh-ha) mengerjakan (amalan) yang lebih baik dari menumpahka darah (yakni: menyembilh kurban-pen), keculai menyambung persaudaraan”

Keterangan Hadist :

Hadist ini dha’if. Al-Mudziriy berkata oleh Thabarniy di dalam al-Kabir dari Ibnu ‘Abbas , dan di dalam isnadnya ada Yahya bin Al-Hasan Al-Khasyniy, aku tidak tahu keadaannya.

Al- Haitsami berkata (VI/18). “ Dia dha’if, walaupun sekelompok (orang) mentsiqohkannya.”

 

Baca juga:

Ini Dalil dan Tujuh Hikmah Kurban

 

Syeikh al-Albani berkata : “ Kemudia aku mengecek di dalam Mu’jam Ath Thabrni Al-Kabir dan aku dapati hadit itu di dalamnya (III/104) dari Al-Hasan bin Yahya Al-Khasyni dari  Isma’il bin Ayyaasy dari Laits dari Thawus, dia berkata :  Rasulullah saw bersabda di hari raya Adh-Ha :  ….kemudian dia menyebutkan (hadist di atas).

Aku (al-Albani) berkata :  “ Maka jelaslah bahwa dia adalah Al-Hasan bin Yahya yang disebutkan oleh as-Sam’aani bahwa al-Hafizh berkata : “Shaduuq (jujur) tetapi banyak salahnya”. Dan bertambah ilmu ( ku) tentang kelemahan hadis ini, tatkala aku meliahat di dalam (sanad) nya terdapat Isma’il bin ‘ayyaasy dan Laits, yang Laits) ini adalah Ibnu Abi Salim, sehingga (sanad ini) dirangkai para (rawai) yang dha’if . (Lihat: Silsilah al-Ahaadist adh-Dha’iafh No. 525).

Hadits Kedua

ماَ عَمِلَ اَدَمِيُّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَاتِى يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بِقُرُوْنِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَنّْ الدَّمِ لَيَقَعَ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ اْلأَرْضِ فَطِيْبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidaklah seorang manusia mengerjakan satu pekerjaan pada hari kurban yang lebih dicintai oleh Allah swt  daripada menumpahkan darah (menyembelih kurban-pen). Sesungguhnya kurban itu akan datang pada hari qiyamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darah itu berada di satu tempat disisi Allah sebelum Maka baguskanlah nilainya.”

Keterangan Hadits

Hadist ini dha’if, Diriwayatkan oleh at-Tirmidzy (II/352), Ibnu Majah (II/272), al Hakim (IV/221-222) dan al-Baghawi di dalam “ Syarah Sunnah” (I/129/I) dari jalan : Abul Mutsanna Sulaiman bin Yazid dari Hisyam bin “ Urwah dari bapakanya dari ‘Aisyah secara marfu’.

At-Tirmdizi menghasankannya. Al-Hakim mengatakan: “Isnadnya shahih”,  tetapi dibantah oleh: Adz-Dzahabi ; Aku berkata : Sulaiman lemah, dan sebagaian (ulama) meninggalkannya.

Al-Mundziri berkata di dalam at-Targhiih (II/101): “Mereka semua meriwayatkan dari jalan Abul Mutsanna, sedang dia adalah lemah, walaupn terkadang (dianggap) kuat.”

Al-Baghwai berkata : “ Abu Hatim sangat melemahkannya”  (Lihat: Silsilah al-Ahaadits adh Dha’ifah no. 525.)

Hadits Ketiga

( الأَضَاحِىُّ ) سُنَّةُ أَبِيْكُمْ إِبْرَاهِيْمَ قَالُوا فَمَا لَنَا فِيْهَا يَارَسُوْلَ اللهِ قَالَ بِكُلَّ شَعَرَةٍ حَسَنَةُ قَالُوْا فَالصُّوْفُ يَارَسُوْلَ اللهِ قَالَ بِكُلِّْ شَعَرَةِ مِنَ الصَّوْفِ حَسَنَّةٌ

“Kurban adalah sunnah Ibrahim bapak kalian, mereka bertanya :” Apakah yang kami dapatkan padanya?” Beliau menjawab :” Pada setiap helai rambut ada satu kebaikan,” mereka bertanya : “ Bagaiaman dengan bulu?” beliau menjawab: “Pada setiap helai rambut dari bulu ada satu kebaikan”

Keterangan hadist :

Hadits ini dha’if. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (II/273) dan Al-Hakim (II/389) dari ‘Aidzullah bin Abdullah Al-Majasy’iy dari Abu Dawud as Sabi’iy dari Zaid bin Arqam, dia berkata : “ Sahabat-shabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya : “Apakah kurban ini?” beliau menjawab ; (hadist diatas).

Al-Hakim berkata : “Isnadnya shahih!”. Kemudian dibantah oleh: Adz Dzahabi.  “Aku berkata: ( tentang ) ‘ Aidzullah, Abu Hatim berkata : Hadisnya mungkar.”

Setelah menukil penshahihan al-Hakim, al-Mundziri berkata: “Tidak, bahkan lemah” Aidzullah adalah Al Majasy’iy dan Abu Dawud as-Sabi’i adalah Nafi bin  Al Harits Al-A’ma, keduanya lemah”.

 

Baca juga:

Ini 7 Jenis Dosa Riba dan Ancaman Bagi Para Pelakunya

 

Tentang Abu Dawud as Sabi’i ini, adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Dia memalsu hadis”.

Ibnu Hibban berkata : “Tidak boleh meriwayatkan darinya, dialah yag meriwayatkan dari Zaid bin Arqam…” kemudian dia menyatakan hadist di atas. (Lihat: Silsilah al-Hadist adh-Dha’ifah, no.527).

Hadits Keempat

يافَاطِمَةُ قُوْمِي اِلَى أَضْهيّْتَكِِ فَاشْهَدِيْهَا فَإِنَّهُ يُغْفِرْ لَكَ عِنْدَ أَوَّل قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهَا كُلِّ ذَنْبٍ عَمِلْتِيْهَا

“Hai Fathimah, berdirilah mendekati korbanmu, dan saksikanlah ! karena sesungguhnya pada tetesan darahnya yang pertama, seluruh dosa yang telah engkau lakukan akan diampuni.”

Keterangan hadist:

Hadist ini mungkar, diriwayatkan oleh Al-Hakim (III/222) dari  jalan  an-Nadr bin Isma’il al-Bajali yang berkata : Abu Hamzah ats- Tsumali telah bercerita kepada kami dari Sa’id bin Zubair dari ‘Imran bin Hushain, marfu’.

Al-Hakim berkata : “ Isnadnya shahih”. Tetapi dibantah oleh adz-Dzahabi: “(Tidak benar) bahkan Abu Hamzah sangat dha’if, dan (Ibnu) Isma’il tidak begitu (kuat –pen).”

Ath Thabrani juga meriwayatkan hadist ini dari Abu Hamzah juga di dalam Al Kabiir dan Al-Austh sebagaiman tersebut di dalam al-Majma’(IV/17).

Kemudian al-Hakim memabawakan penguat (syahid) dari jalan ‘ Athiyyah dari Abu Sa’id Al-Khudry mafru. Akan tetapi adz-Dzahabi membantahnya dengan menyatakan bahwa ‘ Athiyah adalah lemah.

Dan dari jalan ‘Athiyah pula, diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Abusy Syaikh Ibnu Hayan, sebagaiaman didalam at-Targib. (II/102)

Ibnu Abu Hatim berkata di dalam Al’Ilal (II/38-39). “Aku mendengar bapaku berkata: Hadits itu mungkar.

Abu Qashim al-Ashbani juga meriwayatkan seperti itu, sebagaiaman di dalam At Targhib, dan dia berkata: “Sebagaimana guru kami telah menghasankan hadits ini) walapunn keadaannya seperti ini, wallahu A’lam”. (Lihat : Silsilah Al-Hadisth Ahd-Dha’ifah, no. 528).

Hadits Kelima

  مَنْ ضَحَّى طَيَّبَةُ بِهَا نَفْسُهُ مُهْتَبِسًا لأُضْحِيَّتِهِ كَانَتْ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ …

“Barang siapa yang menyembelih korban dengan jiwa yang senang terhadap (kurban itu), dan dengan mengarhapkan (pahala)  terhadap hewan kurbannya, maka hewan itu sebagai dinding dari neraka untuknya”

Keterangan hadist:

Hadist ini palsu, Al-Haitsami berkata di dalam Al- Majma (IV/17) setelah dia menyebutkannya dari hadist Hasan bin  Ali “Diriwayatkan oleh ath Thabrani di dalam al-Kabiir dan di dalam sanadnya ada Sualiman bin ‘ Amr An-Nakha’i dan dia adalah pendusta.

Ibnu Hibban berkata : “ Dia adalah laki-laki yang zahirnya shahih, akan tetapi dia benar-benar memalsu hadist.”

Dan termasuk kelalaian as-Suyuthiy, dia memasukan hadist ini di dalam al-Jami’usah Shaghir dari sanad ini! Tetapi pensyarahnya, yaitu Al-Munawi membantahnya dengan ucapan Al-Haitsami ini, lalu berkata : “Maka sepantasnya bagi penyusunan untuk membuangnya dari Kitab ini.” ( Lihat: Silsilah Adh –Dha’ifah no. 52).

Hadits Keenam

نِعْمَ اْلأُضْهِيّّةُ اْلجَذَعُ مِنَ الضَّا نِ

“Sebaik-baik kurban adalah domba jadza.”

Keterangan Hadist :

Hadist ini Dha’if diriwayatkan oleh At- Tirmidzi (II/355), al-Baihaqi (IX/271) dan Ahmad (II/ 444-4445) dari jalan ‘Utsman bin Walid dari jalan Kaadaan bin Abdurrahman dari Abu Kabasy.

At Tirmidzi berkata : “ Hadist Gharib” yakni dha’if. Al-Haafizh Ibnu Hajar berkata :  “Dan di dalam sanadnya ada kelemahan” ( Fathul  Bari : X/12).

Syaikh al-Albani menyatakan bahwa Abu Kabasy dan Keadan adalah majhul (tidak dikenal), sebagaiaman disebutkan dengan jelas oleh Al-Haafizh (Ibnu Hajar) di dalam at-Taqrib.

Al-Baihaqi berkata : “Dan telah sampai kepadaku dari Abu ‘Isa at-Tirmdizi, dia berkata:  al-Bukhari berkata:  Diriwayatkan oleh selain ‘ Ustman bin Waaqid  dari Abu  Hurairah (secara) mauquf.” (Lihat: Silsilah al-Ahaadist adh-Dha’ifah, no. 64).

Hadits Ketujuh

لاَتَذْ بَحُوْاإِلاَّ مُسَنَّةً إِلاَّ أَنْ يَعْسُرُ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوْا جَذَعَةً مِنَ الضَّانِ

“Jangalah kalian menyembelih kecuali musinnah . kecuali apabila kalian  kesulitan, maka sembelihlah domba jadza’ah.”

Keterangan Hadist :

Hadist ini dha’if, diriwayatkan oleh Muslim (VI/77), Abu Dawud (no. 2797), an Nasai (II/204), Ahmad (III/312, 327), Ibnu Majah (No. 3141), Ibnu Jaruud (no. 904), al-Baihaqi (IX/269) dan oleh Abu Ya’la al-Maushui di dalam (musnad) nya (II/125), seluruhnya dari jalan Abuz Zubair, dia berkata:  Abuz Zubair telah meriwayatkan kepada kami dari Jabir secara marfu’. Abu Ya’la juga meriwayatkan yang semakna dengan ini dari jalan Muhammad bin ‘Ustman Al-Quraisy yang berkata bahwa Sulaiman telah bercerita kepada kami, Sulaiman berkata bahwa Abuz Zubair telah bercerita kepada kami. Ad Daruquthniy berkata tentang Muhammad bib ‘Utsman Al Qurasiyiy ini: Majhul (tidak dikenal).”

 

Baca juga:

Pandangan Islam Tentang Nikah Siri

 

Kedua jalan tadi sumbernya adalah Abuz Zubair, yang dia adalah seorang mudalis (orang yang suka menyamarkan hadist) yang terkenal, maka hendaklah berhati-hati dari hadistnya selama tidak terang pengkhabarannya, (seperti mengatakan : si fulan telah bercerita kepada kami),  padahal pada sumber-sumber yang mengeluarkan hadist ini menggunakan keta’atan (dari). Dan di dalam ilmu Musthalah Hadist telah menjadi ketetepan bahwa hadist  seorang mudallis tidak  bisa untuk hujjah selama tidak terang menyatakan pemberitaannya. Oleh karena itulah para ulama peneliti mengkritik hadist-hadist yang diriwayatkan oleh Abu Zubair dengan sanad ini yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, kecuali yang dari Abuz Zubair. Hal ini karena dia ( al-Laits) tidak meriwayatkan dari Abu az-Zubair kecuali yang Abu Az-Zubair menyatakan dengan jelas pemberitaannya. (Lihat: Silsilah al-Hadist adh-Dha’ifah I/160 -163 pada keterangan  hadist no : 65, dan Irwa’ul Ghalil IV/358-359 pada hadist no : 1145).

Hadits Kedelapana

أَيُّهَا النَّاسُ ضَحُّوْا وَاحْتَسِبوُا بِدِمَائِهَا فَأنَّ الدَّمَ وَاِنْ رَفَعَ فِى اْلأَرْضِ فَإِنّهُ يَقَعُ فِي حِرْزِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Wahai manusia, hendaklah kalian menyembelih kurban, dan berharaplah pahala dengan darahnya, karena sesungguhnya walaupun darah itu jatuh di tanah, akan tetapi sesungguhnya darah itu jatuh di dalam wadah milik Allah.”

Keterangan Hadist.

Hadist ini palsu, Al-Haitsami berkata : “ Diriwayatkan oleh At-Thabrani di dalam Al-Ausath, dan dalam sanadnya ada ‘Amr bin Hushain Al’Uqaili dan dia adalah orang yang hadistnya di tinggalkan” (Lihat: Adh Dha’ifah, No. 530).

Hadits Kesembilan

عَظَّمُوْا ضَّحَايَاكُمْ فَأِنَّهَا عَلَى الصِّرَاطِ مَطَايَاكُمْ

“Besarkanlah hewan-hewan kurban kalian, karena sesungguhnya hewan-hewan kurban itu adalah tunggangan kalian di atas shirath (jembatan di atas neraka.)”

Keterangan Hadist.:

Hadist ini tidak ada asalnya dengan lafadz ini. Ibnush Shalah berkata : “Hadist ini tidak dikenal, dan tidak tsabit.”

Dalam hadis lain dengan lafazh (  اِسْتَقرهُواْ ) sebagai ganti ( عَظْمُوْا ) akan tetapi sandanya sangat dha’if. (Lihat: Silsilah adh-Dha’ifah no. 74 dan 1255).

Hadits Kesepuluh

إِنَّ أَفْضَلَ الضَّحَايَا أَغْلاَهَا وَأَسْمَنُهَا

“Sesungguhnya hewan kurban yang paling utama adalah yang paling mahal dan paling gemuk”

Keterangan Hadist :

Hadist ini Dha’if, diriwayatkan oleh Ahmad (III/424), Abul ‘Abbas Al Asham di dalam “ Hadist”  nya (I/140/I), dan dari jalannya juga oleh al-Hakim (IV/231), juga al-Baihaqi (IX/168). Dan Ibnu ‘Asaakir di dalam “Tarikh Dimsyaq” ( III/197/1) dari jalan “ Utsman bin Zarf al-Juhaini yang berkata Abul Asyad (Al-Asham berkata: Abul Asad) as-Sulami telah bercerita kepadaku dari bapaknya dari kakeknya. “Utsman ini majhul (Tidak dikenal) sebagaimana dinyatakan oleh Al-Haafizh di dalam At-Tarqib.

Abul Asyad juga majhul, al-Haitsami berkata di dalam Al-Majma (IV/ 21). “Diriwayatkan oleh Ahmad, sedangkan Abul Asyad, aku tidak mendapati orang yang mentasiqahkannya (menyatakan sebagai perawi yang kuat) dan menjarahnya (menyatakannya sebagai perwai lemah), demikian pula bapaknya. Ada yang mengatakan, kakeknya adalah ‘Amr bin ‘Abbas.

Demikianlah beberapa hadist dha’if dan yang berkaitan dengan kurban dan berkurban. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Wallahu A’lam Bishawab.


Back to Top