Aurat Muslimah di Depan Wanita Non Muslim

gomuslim.co.id – “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anakanak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Pada surat Al-Ahzab ayat 59 dijelaskan kewajiban menutup aurat. Di antara tujuan utama wanita menutup auratnya adalah agar mereka mudah dikenali dan terhindar dari hal-hal yang tidak baik atau mencelakai mereka. Karena Islam adalah agama yang sangat memuliakan dan menghargai wanita.

Artikel ini lanjutan tentang batasan aurat wanita di depan mahram dan non mahram. Apakah boleh muslimah membuka jilbab atau bagian auratnya di depan wanita non muslim? Berikut penjelasannya.

Aurat Wanita Muslimah di Depan Wanita Muslimah

Batasan aurat wanita muslimah dengan wanita muslimah adalah seperti batasan antara laki-laki dengan laki-laki, yaitu hanya antara pusar dan lutut. Sehingga diperbolehkan bagi wanita muslimah melihat kepada wanita muslimah lainnya selain antara pusar dan lutut selama tidak menimbulkan syahwat atau aman dari fitnah.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Asy-Syirbini dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj:

“Aurat wanita muslimah yang telah baligh dengan wanita muslimah lainnya seperti batasan antara laki-laki dengan laki-laki, dan boleh melihat kepada selain pusar dan lutut selama aman dari fitnah. Dan akan menjadi haram jika memandang kepada selain pusar dan lutut dengan syahwat atau khawatir (besar kemungkinan) akan menimbulkan fitnah”.

Aurat Wanita Muslimah di Depan Wanita Non Muslim

Aurat wanita muslimah di depan wanita non muslim ini, ada terjadi sedikit perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqih.

Aurat wanita muslimah di depan wanita non muslim menurut jumhur ulama adalah seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan, seperti halnya auratnya di depan laki-laki non mahram. Ini merupakan pendapat dari Hanafiyah, Malikiyah, dan yang paling masyhur dan shahih dari Syafi’iyah. Dalil mereka adalah:

Janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita mereka (Muslimah)… (QS. An-Nur: 31)

Menurut penafsiran jumhur ulama, artinya wanita-wanita mereka dari kalangan muslimah. Kata ganti orang ketiga ”mereka” kembali ke wanita-wanita muslimah. Karena ayat ini turun dan ditujukan buat mereka. Sehingga wanita-wanita muslimah tidak boleh menampakkan auratnya kecuali di depan sesama wanita muslimah lainnya.

Kemudian, Dalil yang memperkuat pendapat jumhur ulama ini adalah hadis Umar:

Dari Umar RA, bahwasanya dia melarang wanita wanita ahli kitab memasuki kamar mandi bersama-sama dengan wanita-wanita Muslimah”.

Dari fatwa umar itu, maka jumhur ulama memahami, agar jangan sampai wanita-wanita non muslim melihat aurat wanita-wanita muslimah. Sehingga dilarang mereka memasuki kamar mandi bersama-sama.

Argumen yang memperkuat dilarangnya wanita muslimah membuka dan memperlihatkan saddu dzari’ah, karena kalau diperbolehkan melihat kepada aurat wanita muslimah, dikhawatirkan mereka membuka dan ataupun menceritakan aib atau aurat wanita muslimah nantinya kepada lakilaki non muslim.

Aurat Wanita saat Salat

Aurat wanita dalam salat adalah seperti batasan aurat wanita di depan laki-laki ajnabi menurut jumhur ulama. Yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan (mencakup perut dan punggung tangan). Dalilnya adalah:

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-A’raf: 31)

Artinya pakaian yang menutup aurat menurut jumhur, dan maksud ketika kalian ingin memasuki masjid ditafsirkan ketika ingin salat. Maka ketika seseorang ingin melaksanakan salat dia harus mengenakan pakaian yang menutup seluruh auratnya.

Dalil lainnya adalah hadis Nabi SAW:

Tidak diterima oleh Allah SWT, salat wanita yang sudah haidh kecuali dengan mengenakan khimar”. (HR. Daud)

Makna dari hadis di atas adalah menjadi syarat sah salat bagi wanita yang telah baligh adalah menutup aurat secara sempurna dengan mengenakan pakaian yang dapat menutupi tubuhnya secara keseluruhan kecuali bagian muka dan kedua telapak tangan.

Al-Khatib Asy-Syirbini menjelaskan:

“Wajah dan kedua telapak tangan wanita bukan termasuk aurat, akan tetapi keduanya termasuk anggota yang diharamkan untuk dilihat. Sebagaimana yang disebutkan al-Mawardi dalam kitabnya bab shalat:

Bahwa wanita itu ada aurat besar dan aurat kecil, dan auratnya di depan lakilaki bukan mahram itu mencakup aurat besar dan aurat kecil. Aurat besar wanita adalah selain wajah dan kedua telapak tangan, sementara auarat kecil adalah antara pusar dan lutut.

Diwajibkan wanita menutup aurat besarnya di dalam shalat dan di depan laki-laki yang bukan mahramnya ataupun khuntsa. Sedangkan aurat kecil wajib dia tutup dari wanita-wanita, mahrammahram, dan anak-anak kecil.

As-Subki mengatakan dan pendapat paling kuat menurut ashab Asy-Syafi’I bahwa wajah dan kedua telapak tangan adalah aurat untuk dilihat, tetapi bukan aurat di dalam shalat”.

Adapun menurut pendapat ulama mazhab Hanafi, aurat wanita di dalam salat adalah selain wajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki hingga mata kaki. Ini merupakan pendapat yang paling kuat di dalam madzhab ini. Kedua kaki juga bukan bagian dari aurat, karena biasa terlihat atau nampak dari wanita. Wallahua'lam Bisshawab. (hmz)

Summber:

- Masyru’iyyah dari Menutup Aurat pada Wanita, Isnawati, Lc., MA, Rumah Fiqih Indonesia

 

Baca Juga:

Ini Batasan Aurat Wanita di Depan Mahram dan Non Mahram


Back to Top