Ini Batasan Aurat Wanita di Depan Mahram dan Non Mahram

gomuslim.co.id - Islam adalah agama yang sangat memuliakan dan menghargai wanita. Di antara bukti bahwa Islam sangat menjaga wanita adalah turunnya perintah untuk wanita muslimah menutup auratnya. Di antara tujuan utama wanita menutup auratnya adalah agar mereka mudah dikenali dan terhindar dari hal-hal yang tidak baik atau mencelakai mereka.

Lalu, apa batasan aurat wanita? Berikut penjelasannya:

Aurat Wanita di Depan Non Mahram

Maksud dari mahram di sini adalah mahram muabbad, yaitu laki-laki yang haram menikah dengan wanita selama-lamanya. Maka laki-laki non mahram adalah setiap laki-laki yang memungkinkan menikah dengan sang wanita. Ada batasan aurat yang wajib dijaga selama tidak terjadi ikatan pernikahan di antara mereka.

Aurat wanita muslimah di depan laki-laki non mahram, menurut jumhur ulama adalah seluruh tubuh wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan. Di antara yang berpendapat demikian adalah Imam Malik, salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan Pendapat yang Masyhur di dalam mazhab Asy-Syafi'i.

Hal ini berdasarkan Firman Allah:

Janganlah mereka memperlihatkan perhiasan (aurat) mereka, kecuali yang biasa nampak”. (QS. An-Nur: 31)

Ibnu Abbas menafsirkan, maksud dari yang biasa nampak itu adalah wajah dan kedua telapak tangan. Kemudian ketika wanita berihram, nabi mengharamkan mereka menutup wajah dan telapak tangannya. Kalau wajah dan telapak tangan bagian dari aurat, tentu nabi tidak melarang menutupinya melainkan memerintahkan untuk ditutup.

Kemudian juga terkait kenapa tidak memasukkan wajah dan telapak tangan bagian dari aurat karena hajat, karena dari wajah seseorang dapat dikenali dan kedua telapak tangan ini berperan penting ketika wanita bermuamalah, dalam jual beli, dalam muamalah sosial, ketika mengambil atau memberikan sesuatu, sehingga dia dimaklumi dan dianggap bagian yang biasa nampak.

Dalil jumhur ulama, dari Aisyah radhiyallahu‘anha bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Asma', bila seorang wanita sudah mendapat haidh maka dia tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini". Lalu beliau SAW menunjuk kepada wajah dan kedua tapak tangannya”. (HR. Abu Daud).

Meskipun wajah wanita menurut wanita muslimah bukan termasuk aurat, yang dia boleh saja dibuka, bukan berarti dibolehkan memandang wajah wanita kecuali untuk suatu hajat. Sebagaimana di awal surah An-Nur ayat 31 di atas, ada perintah untuk laki-laki ataupun wanita menundukkan pandangan mereka dari lawan jenisnya atau laki-laki ajnabi.

Pendapat kedua merupakan pendapat dari Abu Hanifah, Ats-Tsaurid dan al-Muzanni, bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat, kecuali wajah, telapak tangan dan kaki. Ketiga anggota tubuh tersebut menurut mereka adalah bagian yang sering terlihat atau biasa nampak dari wanita. Sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat:

Janganlah mereka memperlihatkan perhiasan (aurat) mereka, kecuali yang biasa nampak”. (QS. An-Nur: 31)

Pendapat ketiga ini berbeda dengan pendapat di atas, yaitu menyatakan bahwa seluruh tubuh wanita aurat. Sebagaimana yang diriwayatkan dari al-Mawardi dan al-Mutawalli dari Abu Bakar bin Abdurrahman at-Tabi’i.

Salah satu pendapat dari Imam Ahmad beliau menyatakan bahwa seluruh tubuh wanita juga aurat kecuali bagian wajahnya.

Aurat Wanita Muslimah di Depan Mahram

Mahram sebagaimana disebutkan di atas adalah mereka yang haram menikah dengan wanita selama-lamanya, baik karena di antara keduanya ada hubungan nasab, atau pernikahan atau persusuan sebagaimana yang disebutkan dalam surah An-Nisa ayat 23.

Antara wanita dengan mahramnya ini Islam memberikan kelonggaran terkait aurat. Keempat madzhab fiqih sepakat boleh terlihat rambut, boleh terlihat kaki, tidak sebatas wajah dan tangannya saja yang boleh terlihat. Dan masing-masing mereka punya batasan tersendiri terkait aurat wanita muslimah di depan mahramnya.

Terkait aurat wanita di depan mahramnya, dalam madzhab Hanafi ini ada terjadi perbedaan pendapat, di mana sebagiannya menyamakan aurat wanita muslimah di depan mahramnya seperti auratnya seorang laki-laki dengan laki-laki lainnya, yaitu hanya antara pusar dan lutut. Selain antara keduanya itu semuanya boleh terlihat.

Sementara sebagian lainnya menyatakan bahwa yang boleh terlihat dari wanita di depan mahramnya hanya bagian-bagian yang biasa nampak dan dipakaikan perhiasan, yaitu seperti kepala, leher, dada, lengan, betis dan kaki. Selainnya seperti perut, paha, punggung itu bukan bagian yang biasa nampak dan dipakaikan perhiasan, sehingga tidak boleh terlihat.

Pendapat kedua ini berdasarkan firman Allah:

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudarasaudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka…(QS. An-Nur: 31)

Makna dari menampakkan perhiasan itu adalah tempat yang di sana dipakaikan perhiasan. Maka semua anggota tubuh yang biasa wanita pakaikan perhiasan disana, maka boleh terlihat bagian-bagian tersebut oleh mahramnya.

Aurat Wanita Di Depan Suami

Terkait apakah ada batasan aurat wanita di depan suaminya sendiri, maka tidak ada terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama empat madzhab, bahwasanya diperbolehkan bagi suami melihat seluruh tubuh istrinya tanpa kecuali begitu juga menyentuhnya. Antara keduanya tidak ada batasan batasan aurat tidak berlaku antara seorang wanita dengan suaminya.

Berdasarkan firman Allah SWT di dalam Al-Quran:

“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya (5), kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. (6) Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.(7)” (QS. Al-Mu’minun: 5-7)

Dalil lainnya adalah:

“(Isteri-isteri kamu) mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun menjadi pakaian bagi mereka”. (QS. Al-Baqarah : 187)

Lafadz libasun lakum dimaknai oleh para mufassir bahwa tubuh suami menjadi pakaian buat istrinya, sehingga di hadapan suaminya, dan sebaliknya wanita adalah pakaian buat suaminya. Antara pakaian dan aurat yang ditutupi tidak ada batasan atau jarak melainnya pakaian itu sendiri kiasan dari suami yang berfungsi sebagai pakaian, yang menutupi aurat wanitanya. Sehingga antara keduanya tidak ada batasan.

Tidak adanya batasan aurat antara suami istri dikuatkan dengan hadits nabawi. Dasarnya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan istrinya, Aisyah radhiyallahuanha, ketika mereka mandi berdua. Hal itu diriwayatkan oleh Aisyah dalam hadits berikut ini :

“Aku pernah mandi bersama Nabi SAW dari satu wadah dan satu gayung. (HR. Bukhari dan Muslim)”

“Dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kekaknya bertanya,”Ya Rasulallah, tentang aurat kami, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh?”. Rasulullah SAW menjawab,”Tutuplah auratmu kecuali kepada istrimu dan budakmu”. (HR. Tirmizy)

Kendati boleh bagi suami melihat keseluruh tubuh istrinya tanpa batas, hanya saja mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah memakruhkan suami melihat langsung ke kemaluan istrinya atau sebaliknya, begitu juga Al-Hanafiyah mereka berpendapat bagian dari adab suami istri untuk tidak melihat secara langsung kemaluan masingmasing.

Dasar dari makruhnya atau kurang beradabnya melihat kemaluan istri atau suami adalah hadits berikut ini : “Bila kamu melakukan hubungan badan dengan istrimu maka gunakanlah penutup, janganlah telanjang bulat. (HR.Ibnu Majah). Wallahua'lam Bisshawab. (hmz)

 

Sumber:

Masyru’iyyah dari Menutup Aurat pada Wanita, Isnawati, Lc., MA, Rumah FIqih Indonesia

 


Back to Top